Kematian Akibat Polusi Udara Lebih Tinggi dari Corona

Badan Kesehatan Dunia atau WHO telah menetapkan fenomena menyebarnya virus corona covid-19 sebagai pandemi. Ini karena penyebaran virus sudah memasuki tingkat global. Sejumlah negara yang terdampak pun mulai menerapkan kebijakan lockdown untuk menekan angka penyebaran virus corona yang sangat cepat. Angka kematian yang disebabkan juga tidak sedikit. Sejumlah 11.324 jiwa dari total kasus yang tercatat per Minggu (15/3/2020) pukul 08.30 WIB adalah sejumlah 156.112 kasus, seperti dilansir dari Tirto

Namun yang mengejutkan, ternyata angka tersebut tidak lebih tinggi daripada angka kematian akibat polusi udara. Ironisnya, bagi penduduk wilayah perkotaan, atau warga negara berkembang pada umumnya, polusi udara adalah “makanan sehari-hari”. Pandemi virus corona memang merupakan situasi darurat global. Tetapi orang-orang lupa bahwa sebenarnya jauh sebelum itu, polusi udara telah lama menjerat urat nadi mereka.

Apalagi, menurut pernyataan CEO IQAir Frank Hammes, dilansir Kompas, Jakarta saat ini adalah kota paling terpolusi di dunia. Data ini didapat dari 2019 World Air Quality Report dengan angka kematian yang disebabkannya mencapai hampir 7 juta per tahun. Disimpulkan bahwa 90% populasi dunia saat ini tengah menghirup udara yang tidak sehat.  Bahkan di tengah pandemi virus corona covid-19 seperti sekarang. Ini yang membuat kematian akibat polusi udara terus tinggi. 

Bahkan, dari data yang sama, ditemukan bahwa konsentrasi partikel di dalam polusi udara tersebut meningkat sepanjang tahun 2019 lalu. Zat pencemar tersebut seperti sulfat, nitrat dan karbon hitam, yang bila terhirup dan tertimbun di dalam organ tubuh manusia akan mematikan. Ada beberapa faktor yang menyebabkan fenomena tersebut, yaitu:

Kebakaran Hutan

Belum lama ini, pada penghujung 2019 lalu, dunia dikejutkan dengan kebakaran hutan besar di Australia. Kebakaran tersebut, dan juga kasus kebakaran hutan lainnya yang sering terjadi di Indonesia, tentu memiliki dampak pada kualitas udara di wilayah sekitarnya.

Penggurunan

Badai pasir yang sering terjadi di wilayah sub-tropik seperti Timur Tengah dan wilayah China bagian barat juga memiliki dampak besar pada kualitas udara di wilayah sekitarnya.

Peningkatan Populasi

Meningkatnya jumlah penduduk yang tidak diiringi dengan pembangunan yang berkelanjutan, menyebabkan sebagian zat-zat buangan menjadi tidak terolah dengan baik dan benar. Peningkatan jumlah penduduk diikuti dengan peningkatan kegiatan termasuk mobilitas, yang menyebabkan peningkatan konsentrasi asap kendaraan bermotor dan asap limbah pabrik. Terutama di negara berkembang seperti Indonesia dan negara-negara di Asia Tenggara lainnya.

Perlu diingat, bahwa kualitas udara di luar ruangan juga bisa berdampak pada kualitas udara di dalam ruangan dan di rumah. Melalui saluran udara seperti jendela dan ventilasi, serta perantara dari pakaian dan barang lainnya, udara kotor di luar ruangan dapat mencemari rumah. Bila terus terjadi, akan menimbulkan tumpukan zat kotor di udara dalam rumah yang bisa menyebabkan penyakit. 

HydroClean menyediakan layanan MicroTech Ray dengan teknologi penyinaran sinar UV dan ozon. Dalam bentuk lampu, MicroTech bekerja membunuh kuman, virus dan mikroorganisme penyebab penyakit lainnya di dalam ruangan dengan efektifitas hingga 99,99%. Layanan ini sudah dapat dipesan di 20 kota, yaitu Jabodetabek, Karawang, Cikarang, Bandung, Semarang, Solo, Yogyakarta, Malang, Surabaya, Bali, Makassar, Balikpapan, Palembang, Pekanbaru, Batam dan Medan. 

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *