Awas Mitos Terkait Virus Corona Penyebab Covid-19

Pandemi covid-19 menimbulkan sejumlah kekhawatiran di masyarakat. Seiring pemberitaan mengenai jumlah kasus, informasi tidak bertanggung jawab seperti mitos virus corona juga ikut tersebar dan menambah kepanikan masyarakat.

Mitos-mitos terkait virus corona dan covid-19 tersebut membuat sejumlah fenomena seperti panic buying hingga orang-orang dalam pengawasan dipandang sebelah mata. 

Agar tidak terjebak oleh informasi yang tidak benar, Badan Kesehatan Dunia atau WHO telah menyatakan sejumlah informasi di laman resminya untuk meluruskan misinformasi yang beredar di masyarakat. Berikut hal-hal yang dikonfirmasi oleh WHO:

Virus corona SARS-CoV-2 bisa menular di daerah dengan iklim yang panas dan lembab

Berdasarkan fakta kasus yang terjadi, terutama kasus di Indonesia, virus SARS-CoV-2 ternyata bisa menular di semua wilayah, termasuk wilayah dengan iklim panas dan lembab. Begitu pula jika mengekspos tubuh ke sinar matahari yang bersuhu lebih dari 25 derajat celcius tidak akan melindungi penyakit COVID-19.

Karena itu, bersiagalah jika melakukan perjalanan ke area yang terdampak COVID-19. Tetap biasakan mencuci tangan untuk meminimalisir penyebaran virus ke dalam tubuh. 

Bila positif COVID-19 bukan berarti akan menderita penyakit tersebut seumur hidup

Sebagian besar pasien yang positif COVID-19 telah pulih berkat perawatan yang suportif. Karena itu, jika merasa sakit, segeralah obati gejala dari penyakit tersebut. Misalnya demam dan batuk. Kemudian periksakan ke fasilitas kesehatan terdekat, dan istirahatlah di dalam rumah semaksimal mungkin untuk menghindari penyebaran virus ke tubuh yang sedang kurang fit.

Jika bisa menahan napas selama 10 detik atau lebih tanpa batuk, bukan berarti terbebas dari COVID-19 

Menahan napas selama 10 detik atau lebih bukan berarti terbebas dari COVID-19 dan penyakit pernapasan lainnya. Gejala COVID-19 sendiri pada umumnya adalah batuk kering, kelelahan dan demam. Pada beberapa kasus memperlihatkan gejala pneumonia. Tes pernapasan tersebut justru bisa berbahaya. Cara terbaik untuk mendeteksi virus corona adalah dengan tes laboratorium.

Minum alkohol tidak melindungi dari COVID-19 

Banyak masyarakat salah kaprah bahwa dengan mengonsumsi alkohol dapat melindungi tubuh dari infeksi virus corona. Padahal, konsumsi alkohol yang berlebih malah dapat menambah resiko pada kesehatan. Sebaiknya hindari konsumsi alkohol dan mulailah menambah asupan makanan bergizi. 

Mandi air panas tidak mencegah dari penyakit COVID-19

Mandi air panas atau pun dengan tinggal di wilayah beriklim dingin, suhu tubuh manusia akan tetap berkisar 36.5 derajat celcius – 37 derajat celcius. Bahkan, mandi dengan air yang terlalu panas bisa sangat berbahaya. 

Cara terbaik untuk melindungi diri dari COVID-19 adalah dengan membersihkan tangan secara rutin. Ini dapat meminimalisir virus menginfeksi tubuh melalui sentuhan tangan ke mata, mulut dan hidung.

Gigitan nyamuk tidak bisa menularkan COVID-19

Belum ada penelitian yang menunjukkan bahwa COVID-19 bisa menular melalui gigitan nyamuk. Perlu diketahui bahwa virus corona adalah virus yang menyerang bagian pernapasan yang menyebar melalui droplet atau tetesan dari orang terinfeksi yang batuk atau bersin. 

Cara terbaik untuk menghindari COVID-19 tetap dengan membersihkan tangan dengan sabun dan air atau bahan berbasis alkohol yang sesuai standard. Hindari pula kontak langsung dengan orang yang sedang batuk dan bersin.

Lampu UV tidak boleh digunakan di kulit untuk membunuh virus corona

Lampu ultraviolet tidak boleh digunakan untuk mensterilkan kulit dari virus corona. Radiasi sinar UV dapat menimbulkan kerusakan pada kulit karena gelombang sinar UV dapat merusak struktur DNA kulit. Sebaiknya manfaatkan lampu UV untuk mensterilkan ruangan dan benda-benda. 

Menyemprotkan alkohol dan klorin ke tubuh tidak dapat membunuh virus corona

Menyemprot alkohol dan klorin ke tubuh secara langsung tidak akan membunuh virus yang masuk ke dalam tubuh. Malah, sebenarnya berbahaya jika zat-zat tersebut menempel di pakaian dan mengenai mata, hidung atau mulut. Memang alkohol dan klorin dapat dimanfaatkan sebagai desinfektan, tapi dengan kadar dan petunjuk yang tepat. 

Pelajaran Berharga dari Pandemi Influenza 1918

Pandemik covid-19 yang tengah dialami masyarakat dunia saat ini, sebenarnya pernah juga dialami seratus tahun silam. Bedanya, pada tahun 1918 masyarakat dunia dikejutkan dengan penyebaran virus penyebab penyakit influenza, yaitu rhinovirus. Sedangkan covid-19 disebabkan oleh virus corona golongan SARS-CoV-2. Gejalanya sendiri kurang lebih serupa antara influenza dengan covid-19. 

Langkah yang dilakukan pemerintah setempat dalam menanggulangi kasus pandemik covid-19 ini juga mirip dengan yang dilakukan pemerintah seratus tahun silam dalam menghadapi pandemik influenza. Mulai dari memberlakukan karantina dan isolasi serta tindakan pencegahan dengan melarang sejumlah pertemuan publik. 

Teknik baru: terapi luar ruangan

Dikutip dari tulisan Richard Hobday dalam mikroblognya Coronavirus and the Sun: a Lesson from the 1918 Influenza Pandemic, ada suatu teknik yang tercatat dapat membantu proses pemulihan pasien pandemi influenza pada tahun 1918 lalu. Karena gejala yang diperlihatkan mirip, dan pendekatan pertama yang diambil pemerintah untuk menghadapinya juga sama, diharapkan teknik ini dapat pula membantu menekan kemungkinan terburuk dari pandemik kali ini. 

Petugas medis kala itu menemukan bahwa pasien influenza yang dirawat dengan proses yang melibatkan aktivitas di luar ruangan, sembuh lebih baik daripada mereka yang dirawat di dalam ruangan saja. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa ada faktor udara segar dan sinar matahari yang dapat membantu pasien pulih lebih baik. Selain itu, faktor tersebut diduga juga dapat meminimalisir resiko infeksi di antara staf medis.

Memang ada penelitian yang menunjukkan bahwa sinar matahari dan udara segar merupakan disinfektan alami. Penelitian dari University of Oregon menunjukkan bahwa ruangan yang terekspos sinar matahari selama 90 hari hanya menyisakan 6,8% bakteri. Sedangkan ruang yang tidak mendapat sinar matahari masih menyisakan 12% bakteri aktif. 

Richard mencatat bahwa saat itu, dua tempat terburuk dan beresiko tinggi terinfeksi influenza adalah barak militer dan kapal pasukan. Itu karena tingkat kepadatan prajurit dan pelaut dan ventilasinya yang biasanya buruk. 

Pelajaran dari pandemi terdahulu

Selain itu, dilansir Detik, korban pandemik covid-19 sebagian besar bukan meninggal karena virus corona SARS-CoV-2 melainkan penyakit bawaan. Ini juga terjadi pada korban pandemi flu yang biasa disebut flu Spanyol. Kebanyakan korban saat itu meninggal akibat pneumonia dan komplikasi lainnya. 

Saat itu, open-air treatment pun dilakukan. Tahun 1918, para petugas medis di Boston memperhatikan bahwa pelaut yang paling parah terinfeksi flu Spanyol tersebut berada di ruang dengan ventilasi yang buruk. Petugas medis lalu mulai memberi udara segar kepada pasien dengan menggunakan tenda. Bangsal tempat perawatan berventilasi silang dengan jendela yang dibuka tiap siang dan malam. Terapi terbuka pun mulai banyak dilakukan, terutama pada penyakit umum dan mematikan saat itu, TBC.

Bagaimana dengan masker wajah? Saat itu di Boston, siapapun yang berkontak dengan pasien harus menggunakan masker wajah improvisasi. Masker tersebut saat itu terbuat dari lima lapis kain kasa yang dipasang di kerangka kawat yang menutupi hidung dan mulut. Kerangka disesuaikan dengan wajah pemakai agar menghindari kain kasa menyentuh mulut dan lubang hidung. Saat itu pun masker tersebut harus diganti tiap dua jam dengan disterilkan dan diganti kasa segar. Inilah cikal bakal respirator N95 hari ini. 

Virus Bisa Menempel di Perabot Rumah, Berapa Lama?

Di tengah pandemik virus corona saat ini, orang-orang mulai memperhatikan kebersihan dan sanitasi diri dan lingkungan sekitar. Masyarakat sudah mulai membiasakan diri mencuci tangan, menerapkan etika bersin dan batuk yang benar, bahkan membuat hand sanitizer dan larutan desinfektan secara mandiri. 

Semua itu dilakukan masyarakat untuk memaksimalkan pencegahan akan penyebaran virus corona covid-19. 

Ini karena hal lain yang tak kalah mengejutkan masyarakat adalah bahwa virus secara umum, adalah spesies yang bisa bertahan hidup di benda mati. Berbeda dengan benalu, misalnya. Meski sama-sama parasit atau hidup dengan mengambil manfaat dari inangnya, benalu akan mati jika inangnya mati. 

Berapa lama virus bertahan di benda mati?

Dilansir dari CNN Indonesia, belum diketahui seberapa lama virus corona covid-19 akan bertahan di benda mati. LIPI sendiri mengatakan bahwa belum ada penelitian terkait kemampuan virus bertahan hidup. Namun diperkirakan virus bisa bertahan selama beberapa jam saat menempel di perabot. 

The Journal of Hospital Infection, seperti dilansir Detik, mengatakan bahwa virus menempel di perabot berbahan plastik selama 8 jam – 6 hari. Pada benda berbahan alumunium, virus menempel selama 2 – 8 jam, sedangkan pada bahan stainless steel selama 5 hari. Untuk berbahan kayu dan kaca, virus mampu bertahan selama 4 hari. Lalu untuk benda berbahan metal dan keramik, virus bisa bertahan sekitar 5 hari. 

Berdasarkan penelitian mengenai jenis virus SARs dan MERs, LIPI mengatakan bahwa sebenarnya lama bertahan jenis virus tersebut di benda mati bukan berdasarkan material benda tersebut, melainkan tergantung jenis virus, jumlah, suhu dan kelembapan di sekitarnya. Virus tidak dapat bertahan lama hidup di suhu di atas 30 derajat celcius. 

Apakah virus di benda mati bisa menjangkiti manusia?

Kalau begitu, apakah virus bisa menginfeksi manusia jika melakukan kontak dengan benda mati tersebut?

Penelitian mengenai kemampuan transfer virus corona covid-19 belum ada. Namun jika melihat penelitian terkait virus influenza, kontak tangan dengan benda yang terinfeksi virus influenza tipe A selama lima menit bisa mentransfer sekitar 30% dari jumlah virus di benda tersebut. 

Tapi tidak perlu khawatir. Dilansir CNN, untuk melakukan pencegahan menyebarnya virus corona covid-19 melalui benda mati, kita bisa menyemprotkan larutan desinfektan, misalnya alkohol 70% atau larutan sodium hypochlorite seperti kaporit. Pun saat lepas dari tubuh, virus akan terkena paparan udara yang dipengaruhi oleh paparan ultraviolet dan suhu udara. Virus hanya dapat bertahan di kondisi tersebut selama 10 – 15 menit.

Masuk Angin Bisa Disebabkan Virus?

Pernah mendengar istilah masuk angin? Atau pernah mengalaminya? Biasanya orang Indonesia menggunakan istilah ini untuk keluhan yang dialaminya, mulai dari demam, radang tenggorokan, mual, perut kembung hingga pegal-pegal. Jadi, apa sebenarnya masuk angin itu? 

Ternyata, tidak ada istilah medis untuk masuk angin. Bahkan, masuk angin bukanlah disebabkan oleh angin langsung. Dikutip dari Alodokter, keluhan-keluhan di atas tersebut paling sering muncul akibat menurunnya daya imunitas tubuh. Jadi, keluhan seperti demam, nyeri perut, sering sendawa, merasa lemas hingga batuk dan pilek sebenarnya adalah gejala menurunnya daya tahan tubuh.

Saat daya tahan tubuh melemah, tentunya akan lebih rentan terinfeksi virus dan kuman penyebab penyakit. Sebenarnya ada sekitar 200 virus yang menyebabkan gejala masuk angin tersebut. Misalnya, flu ternyata bisa disebabkan tiga macam virus berbeda, seperti rhinovirus, flu burung dan alergi. 

Masalahnya, orang-orang pada umumnya malas memeriksakan diri ke dokter dan lebih memilih beristirahat di rumah. Ini membuat orang-orang dengan mudahnya menyimpulkan gejala tersebut sebagai “penyakit masuk angin”. Padahal, gejala yang sama yang diderita oleh dua orang berbeda, bisa berbeda pula penyebabnya. Begitu pula penanganannya.

Mengenai Kebiasaan Kerokan

Kita juga tidak jarang mendengar istilah “kerokan” yang kadang disandingkan dengan masuk angin. Ini dilatarbelakangi oleh fenomena dimana pelayanan media yang layak menjadi sebuah komoditas, terutama di kalangan rakyat kecil. Mereka lebih memilih beralih ke pengobatan tradisional atau alternatif. Salah satunya kerokan yang bisa “mengeluarkan angin” penyebab penyakit.

Biasanya gejala masuk angin timbul saat tubuh terganggu oleh udara dingin yang menyebabkan penyempitan pembuluh darah dan asupan oksigen di kulit terbatas. Padahal ketika kulit dikerok, itu menandakan adanya pembengkakan pembuluh kapiler! Semakin merah hasil kerokan, semakin bengkak pula pembuluh kapiler di bawah kulit yang dikerok. 

Di dalam dunia medis, kerokan adalah terapi yang dermabrasive atau merusak kulit. Kerokan memang berguna untuk memanaskan tubuh dengan cara menggosok bagian tubuh yang terasa dingin. Namun bukanlah cara yang efektif, dibanding dengan minum air hangat atau ramuan herbal seperti air jahe. Tapi mengapa banyak orang tertarik dengan cara ini?

Kerokan Menyembuhkan Masuk Angin?

Ini karena efek psikologis dari kerokan yang diaplikasikan di bagian punggung. Dipercaya bahwa terdapat 365 titik akupuntur di sana yang dapat mempengaruhi sistem saraf. Jadi, jika dilakukan kerokan di titik yang tepat, otak akan memproduksi hormon sebagai reaksi tubuh untuk memberi efek relaksasi. 

Efek relaksasi ini yang membuat kita menjadi nyaman dan tidur. Nah, saat tidur inilah daya tahan tubuh terisi kembali dan membuat badan lebih segar saat bangun. Jadi, sebenarnya bukan kerokan yang membuat tubuh kita merasa lebih segar secara langsung. 

Virus influenza, misalnya, yang menyebabkan gejala menurunnya daya tahan tubuh seperti demam dan batuk, sebenarnya belum ada obat yang benar-benar bisa menyembuhkan. Namun virus tersebut bisa hilang dengan sendirinya dalam 5-7 hari, bersamaan dengan pemulihan daya tahan tubuh melalui istirahat yang cukup, serta makan makanan bergizi. 

Mengenal Manfaat Sinar UV dan Ozon untuk Kesehatan

Kita tentu sering mendengar istilah sinar UV dan ozon. Tapi sebenarnya sinar UV dan ozon itu zat apa, ya? Apakah keduanya berbahaya? Sebenarnya, sinar UV adalah sinar matahari yang sampai ke bumi. Sedangkan ozon adalah lapisan luar bumi yang terbentuk dari sinar matahari dan atmosfer bumi. Baik sinar UV dan ozon adalah zat yang berbahaya bagi manusia. 

Jika berbahaya, apakah berarti kedua zat tersebut tidak memiliki manfaat, khususnya bagi manusia? Ternyata, meski sinar UV sering kita dengar sebagai zat yang berbahaya bagi kulit, sinar UV juga memiliki manfaat bagi manusia. Begitu pula ozon.

Mengenal Sinar UV dan Gas Ozon

Sinar UV, seperti yang dijelaskan di atas, adalah sinar matahari yang sampai ke bumi. Sebanyak 10% dari jumlah sinar matahari yang datang adalah sinar UV, dengan pembagian sinar UV A sebanyak 9,8% dan sinar UV B sebanyak 0,2%. Sinar UV B lah yang memberikan dampak berbahaya bagi kulit. Adapun sinar UV C tidak sampai ke bumi dan panjang gelombangnya lebih kecil. 

Bila sinar UV berupa gelombang elektromagnetik, maka ozon berupa gas, atau lebih tepatnya gas beracun. Namun Ozon atau nama kimianya O3 lebih banyak diketahui sebagai penyaring sinar UV yang dipaparkan matahari ke bumi. Selain itu, karena berada di atmosfer pada lapisan stratosfer, gas ozon berfungsi melindungi bumi dari pengaruh benda-benda luar angkasa.  

Meski berbahaya, namun keduanya memiliki manfaat bagi kehidupan manusia. Sinar UV dapat membantu memproses sintesis vitamin D di dalam tubuh agar dapat dimanfaatkan oleh sel-sel di dalam tubuh kita. Sinar UV B akan mengaktifkan kolestrol yang memberi energi untuk sintesis. Kekurangan vitamin D bisa membuat peningkatan risiko insulin resisten, diabetes melitus hingga kanker. Namun jangan terlalu lama terpapar sinar UV B.

Selain itu, sinar UV sudah lama dimanfaatkan sebagai bahan untuk mensterilkan alat-alat medis dan ruang operasi. Ini karena sinar UV dapat membunuh mikroorganisme seperti virus, bakteri, kuman dan jamur. Sinar UV juga dimanfaatkan sebagai alat perangkap serangga atau bug zapper. 

Gas ozon, meski beracun, tapi memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia. Ozon terbentuk dari interaksi antara sinar UV dengan molekul Oksigen atau O2.  Sebagai oksidator kuat, ozon dapat mengurangi konsentrasi apapun dan menghentikan pertumbuhan virus dan mikroorganisme lainnya. 

MicroTech dengan Sinar UV dan Gas Ozon

Dengan alasan tersebut di atas, HydroClean memanfaatkan sinar UV dan gas ozon untuk layanan terbarunya, MicroTech Ray. Teknologi sterilisasi udara dalam ruangan dengan metode penyinaran ini dapat membunuh mikroorganisme dengan efektivitas hingga 99,99%. Menariknya, layanan ini sudah dapat dinikmati hingga di 20 kota di Indonesia, meliputi Jabodetabek, Karawang, Cikarang, Bandung, Semarang, Solo, Yogyakarta, Malang, Surabaya, Bali, Makassar, Balikpapan, Palembang, Pekanbaru, Batam dan Medan.

 

Reference:

https://media.neliti.com/media/publications/39610-ID-peranan-ultraviolet-b-sinar-matahari-terhadap-status-vitamin-d-dan-tekanan-darah.pdf

https://www2.blueair.com/id/ozone-health-effects

Polusi Udara di dalam Rumah, Mungkinkah?

Polusi udara selalu diasosiasikan dengan kehidupan di kota-kota besar di Indonesia, khususnya daerah ibukota Jakarta dan sekitarnya. Sayangnya, hal ini benar, dan bahkan tidak sedikit wilayah perdesaan di Indonesia yang mulai terpapar udara kotor perkotaan. Meningkatnya jumlah penduduk yang diiringi peningkatan produktivitas dan mobilitas menjadi salah satu faktor penyebab polusi. 

Bila membaca data dari Katadata, bahkan sejak pertengahan tahun 2019 lalu, rata-rata indeks kualitas udara di Jakarta tercatat di angka 146,5 US AQI yang berarti tidak sehat bagi kelompok rentan. Jumlah partikel polutan PM2.5 di udara yang tercatat pun ada di kategori tidak sehat, yaitu pada angka 57,3 µg/m3. Ini membuat Jakarta dinyatakan sebagai kota dengan tingkat pencemaran udara tertinggi di dunia.

Polusi udara sering diasosiasikan dengan lingkungan di luar ruangan. Padahal, udara dari luar tentunya dapat masuk ke dalam ruangan. Baik melalui saluran udara di rumah seperti jendela dan ventilasi, maupun melalui medium misalnya menempel di pakaian, tas dan barang lainnya. 

Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Dr. Agus Dwi Susanto mengatakan bahwa udara kotor di dalam ruangan maupun di luar ruangan sama-sama berbahaya jika kadarnya berlebih di dalam tubuh. Hal tersebut bisa menyebabkan gangguan pernapasan seperti bersin-bersin, sakit tenggorokan, hingga memicu alergi seperti asma. 

Bahkan dilansir Detik, polusi di dalam rumah bisa 2-5 kali lebih tinggi daripada tingkat polusi di luar rumah! Bagaimana bisa, ya? Selain masuk melalui saluran udara di rumah dan terbawa oleh kita dari luar, berikut yang membuat udara kotor mencemari dalam rumah:

Adanya aktivitas pembakaran

Emisi yang dihasilkan saat menggunakan lilin, merokok dan membakar bahan makanan bisa menjadi faktor polusi di dalam rumah. Hindarilah kebiasaan merokok di dalam rumah, terutama jika ada anak kecil.

Adanya aktivitas memasak

Kegiatan menumis, mengukus dan menggoreng ternyata dapat menghasilkan asap yang dapat membuat udara rumah menjadi kotor dan pengap. Sebaiknya gunakan exhaust fan atau pastikan ventilasi udara di dapur layak agar pertukaran udara berjalan lancar.

Kebersihan  perabot rumah tangga

Perabot dan barang pecah belah di dalam rumah jika tidak rutin dibersihkan maka akan menjadi sarang bagi debu untuk menempel. Debu-debu tersebut jika terkumpul di udara tentu akan membuat udara di dalam rumah menjadi kotor dan mengandung mikroorganisme berbahaya seperti kuman dan virus.

Sesekali kita bisa memanfaatkan jasa profesional untuk membersihkan debu dan tungau di perabot rumah serta mensterilkan udara di dalam ruangan. HydroClean memiliki layanan MicroTech Ray yang menggunakan teknologi penyinaran UV. Sinar UV akan membunuh mikroorganisme berbahaya di udara dan membuat udara di dalam rumah menjadi segar kembali.

Layanan ini sudah dapat dipesan di 20 kota besar di Indonesia, meliputi Jabodetabek, Karawang, Cikarang, Bandung, Semarang, Solo, Yogyakarta, Malang, Surabaya, Bali, Makassar, Balikpapan, Palembang, Pekanbaru, Batam dan Medan. 

Kematian Akibat Polusi Udara Lebih Tinggi dari Corona

Badan Kesehatan Dunia atau WHO telah menetapkan fenomena menyebarnya virus corona covid-19 sebagai pandemi. Ini karena penyebaran virus sudah memasuki tingkat global. Sejumlah negara yang terdampak pun mulai menerapkan kebijakan lockdown untuk menekan angka penyebaran virus corona yang sangat cepat. Angka kematian yang disebabkan juga tidak sedikit. Sejumlah 11.324 jiwa dari total kasus yang tercatat per Minggu (15/3/2020) pukul 08.30 WIB adalah sejumlah 156.112 kasus, seperti dilansir dari Tirto

Namun yang mengejutkan, ternyata angka tersebut tidak lebih tinggi daripada angka kematian akibat polusi udara. Ironisnya, bagi penduduk wilayah perkotaan, atau warga negara berkembang pada umumnya, polusi udara adalah “makanan sehari-hari”. Pandemi virus corona memang merupakan situasi darurat global. Tetapi orang-orang lupa bahwa sebenarnya jauh sebelum itu, polusi udara telah lama menjerat urat nadi mereka.

Apalagi, menurut pernyataan CEO IQAir Frank Hammes, dilansir Kompas, Jakarta saat ini adalah kota paling terpolusi di dunia. Data ini didapat dari 2019 World Air Quality Report dengan angka kematian yang disebabkannya mencapai hampir 7 juta per tahun. Disimpulkan bahwa 90% populasi dunia saat ini tengah menghirup udara yang tidak sehat.  Bahkan di tengah pandemi virus corona covid-19 seperti sekarang. Ini yang membuat kematian akibat polusi udara terus tinggi. 

Bahkan, dari data yang sama, ditemukan bahwa konsentrasi partikel di dalam polusi udara tersebut meningkat sepanjang tahun 2019 lalu. Zat pencemar tersebut seperti sulfat, nitrat dan karbon hitam, yang bila terhirup dan tertimbun di dalam organ tubuh manusia akan mematikan. Ada beberapa faktor yang menyebabkan fenomena tersebut, yaitu:

Kebakaran Hutan

Belum lama ini, pada penghujung 2019 lalu, dunia dikejutkan dengan kebakaran hutan besar di Australia. Kebakaran tersebut, dan juga kasus kebakaran hutan lainnya yang sering terjadi di Indonesia, tentu memiliki dampak pada kualitas udara di wilayah sekitarnya.

Penggurunan

Badai pasir yang sering terjadi di wilayah sub-tropik seperti Timur Tengah dan wilayah China bagian barat juga memiliki dampak besar pada kualitas udara di wilayah sekitarnya.

Peningkatan Populasi

Meningkatnya jumlah penduduk yang tidak diiringi dengan pembangunan yang berkelanjutan, menyebabkan sebagian zat-zat buangan menjadi tidak terolah dengan baik dan benar. Peningkatan jumlah penduduk diikuti dengan peningkatan kegiatan termasuk mobilitas, yang menyebabkan peningkatan konsentrasi asap kendaraan bermotor dan asap limbah pabrik. Terutama di negara berkembang seperti Indonesia dan negara-negara di Asia Tenggara lainnya.

Perlu diingat, bahwa kualitas udara di luar ruangan juga bisa berdampak pada kualitas udara di dalam ruangan dan di rumah. Melalui saluran udara seperti jendela dan ventilasi, serta perantara dari pakaian dan barang lainnya, udara kotor di luar ruangan dapat mencemari rumah. Bila terus terjadi, akan menimbulkan tumpukan zat kotor di udara dalam rumah yang bisa menyebabkan penyakit. 

HydroClean menyediakan layanan MicroTech Ray dengan teknologi penyinaran sinar UV dan ozon. Dalam bentuk lampu, MicroTech bekerja membunuh kuman, virus dan mikroorganisme penyebab penyakit lainnya di dalam ruangan dengan efektifitas hingga 99,99%. Layanan ini sudah dapat dipesan di 20 kota, yaitu Jabodetabek, Karawang, Cikarang, Bandung, Semarang, Solo, Yogyakarta, Malang, Surabaya, Bali, Makassar, Balikpapan, Palembang, Pekanbaru, Batam dan Medan. 

Virus Pandemi Bisa Dicegah dengan Berpikir Positif

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO secara resmi menetapkan virus corona covid-19 sebagai pandemi. Ini disebabkan karena penyebaran virus tersebut sangat cepat dan berisiko sangat tinggi di tingkat global. Dilansir Kompas, virus corona telah menyebar di 109 negara, termasuk Indonesia, dengan jumlah kasus 105.024 jiwa terdeteksi positif corona dan kasus kematian sejumlah 3.597 jiwa. 

Akan tetapi, kabar tersebut juga diikuti oleh berita baik. Dilansir dari sumber yang sama, sejumlah 56.903 jiwa telah dinyatakan sembuh, yang berarti sekitar lebih dari 50% dari jumlah pasien terdeteksi. Kemudian, sejak Selasa (3/3) lalu, dilansir Katadata, Vietnam dan SIngapura mencetak angka kesembuhan yang signifikan. Bahkan, Vietnam adalah negara pertama yang mengumumkan pasiennya sembuh total tiga pekan setelah kasus pertama terdeteksi. 

Pada Selasa (10/3) lalu, WHO mengadakan konferensi pers mengenai perkembangan kasus corona covid-19. Dirjen WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, seperti dilansir Liputan6 mengatakan bahwa dengan aksi yang tegas dan pencegahan yang dilakukan sejak dini akan memperlambat virus dan mencegah infeksi. Dia mengambil contoh kasus virus corona di China. Dengan total 80 ribu kasus terdeteksi corona, lebih dari 70% telah dinyatakan pulih. 

Berpikir Positif sebagai Bagian dari Pencegahan

Dalam menghadapi kasus pandemi seperti ini, yang paling penting adalah jangan mudah menyerah. Virus pandemi adalah sesuatu yang bisa kita perangi. Berpikir positif membuat kita lebih bersemangat dan berkepala dingin melakukan tindakan pencegahan dan pemulihan. Ini karena saat stres, impuls otak meningkat ke bagian-bagian tubuh dan mempengaruhi sistem kekebalan tubuh.

Sedangkan senjata utama untuk memerangi virus apapun adalah imunitas atau kekebalan tubuh itu sendiri. Nah, dengan berpikir positif dapat memperkuat imunitas tubuh secara tidak langsung. Virus memang alaminya menjangkiti makhluk yang imunitas tubuhnya lemah. 

Kita sendiri bisa mengambil pelajaran berharga dari fenomena virus corona covid-19 ini. Di media sosial misalnya, sejumlah ahli di bidang medis, termasuk perdana menteri Singapura Lee Hsien Loong, banyak membagikan dan meluruskan informasi klinis yang sering disalah artikan orang-orang awam. 

Kita pun mengetahui bahwa mencuci tangan dengan air bersih yang mengalir dan sabun adalah cara terbaik untuk menghindari ancaman virus pandemi. Pun fakta mengenai cara menggunakan masker yang benar. Dengan demikian, kita jadi menyadari apa saja pola hidup yang perlu diubah untuk menghindari penyebaran virus. 

Memulai Tindakan Pencegahan Sejak Dini

WHO turut memberikan saran untuk mencegah terinfeksi virus. Selain mencuci tangan dengan seksama, WHO juga menyarankan untuk menjaga jarak dari orang yang sedang batuk atau bersin minimal satu meter. Perlu diketahui bahwa virus corona covid-19 menular melalui droplet atau cairan. Bagi yang sedang batuk dan bersin, hindari menutup mulut dan hidung dengan tangan, tapi gunakanlah tisu atau bagian siku. 

Kebersihan lingkungan sekitar, terutama di dalam rumah, juga perlu ditingkatkan. Bersihkan bagian-bagian rumah yang sering terlewat dan sulit dijangkau sebagai tindakan pencegahan infeksi virus pandemi. Kita bisa memanfaatkan jasa pembersih debu dan tungau profesional yang mampu membersihkan dengan efektif tanpa meninggalkan residu berbahaya bagi tubuh. Jasa HydroClean Indonesia bisa menjadi pilihan

Layanan HydroClean pun sudah dapat dipesan di 20 kota besar di Indonesia, lho, yaitu Jabodetabek, Karawang, Cikarang, Bandung, Semarang, Solo, Yogyakarta, Malang, Surabaya, Bali, Makassar, Balikpapan, Palembang, Pekanbaru, Batam dan Medan. 

Agar Badan Tetap Fit di Musim Pancaroba

Menjelang memasuki musim kemarau pada bulan April – Mei 2020, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan cuaca ekstrem di Indonesia akan berlangsung hingga sepanjang Maret ini. Meski begitu, terjadinya cuaca ekstrem ini tidak serempak, namun silih berganti. Februari – Maret adalah rata-rata waktu puncak musim hujan di awal tahun ini. Peralihan dari musim hujan ke musim kemarau itulah pancaroba. 

Bila kita amati, sebenarnya secara perlahan kita sudah memasuki masa pancaroba. Sewaktu-waktu, cuaca cerah dan terang dengan suhu cukup tinggi, lalu kemudian berubah menjadi hujan deras seketika dengan suhu turun secara drastis, bahkan tak jarang membuat banjir di sejumlah titik. Bagaimana jika kita sedang beraktifitas di luar ruangan dengan cahaya matahari terik, lalu tiba-tiba saja hujan mengguyur? Wah, pasti menyebalkan, ya. Karenanya, penyesuaian dan persiapan perlu dilakukan untuk mengantisipasi hal tersebut.

Penyebab Tubuh Tidak Fit Saat Pancaroba

Selain aktifitas sehari-hari yang menjadi terganggu, masa peralihan musim ini juga berpengaruh ke kesehatan tubuh juga, lho. Seringkali kita menemukan orang yang terserang flu saat peralihan musim. Dilansir Kompas dari American College of Allergy, Asthma & Immunology, pergantian musim menyebabkan peradangan hidung karena adanya alergi musiman. Virus pun mengincar daerah hidung yang imunitasnya sedang menurun. 

Selain alergi musiman, perubahan cuaca yang biasanya diikuti perubahan suhu dan tekanan udara tersebut membuat iritasi saluran hidung dan menyebabkan pilek. Penurunan suhu, menurut Penelitian dari Yale University, juga membuat respon kekebalan tubuh menurun. Karena itu, penting sekali untuk menjaga daya tahan tubuh dari luar, terutama di musim pancaroba ini. 

Hal-hal yang Harus Diperhatikan

Minum yang cukup

Cuaca ekstrem dengan suhu tinggi yang datang secara tiba-tiba mengharuskan kita untuk selalu mencukupi asupan cairan tubuh. Ini bertujuan untuk mengimbangi tingginya metabolisme tubuh dan menjaga keseimbangan imun. 

Mengonsumsi Makanan Bergizi

Selektiflah dalam memilih makanan yang akan masuk ke dalam tubuh. Penting sekali untuk memastikan makanan yang masuk adalah yang bergizi tinggi seperti buah dan sayur agar dapat menjadi bala bantuan bagi sistem imun tubuh. Tentunya konsumsi makanan dalam porsi yang cukup dan teratur. 

Istirahat yang Cukup

Merasa lelah juga bisa menurunkan daya tahan tubuh terhadap virus penyebab penyakit yang masuk ke tubuh. Karena itu, istirahatlah yang cukup dengan tidur selama waktu yang dianjurkan, yaitu 6 -7 jam sehari. Pola aktivitas pun juga harus seimbang, jangan terlalu keras dengan tubuh. 

Menjaga Kebersihan Diri dan Lingkungan

Untuk meminimalisir kuman dan virus penyebab penyakit di tubuh, jangan lupa untuk selalu mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun. Kebersihan lingkungan, khususnya di dalam rumah juga perlu diperhatikan. Selain dengan rutin membersihkan debu di sekitar rumah, menggunakan jasa teknologi penyinaran sinar UV juga disarankan.

Memanfaatkan Jasa Sterilisasi Ruangan

Sinar UV sudah dikenal mampu membunuh mikroorganisme dan banyak digunakan untuk sterilisasi alat kedokteran. HydroClean memperkenalkan layanan baru MicroTech yang dapat membunuh mikroorganisme penyebab penyakit di dalam ruangan dengan efektivitas 99,99%. Layanan ini juga tidak menimbulkan residu apapun sehingga aman dan efisien untuk digunakan di rumah. 

Layanan HydroClean pun sudah dapat dipesan di 20 kota besar di Indonesia, lho, yaitu Jabodetabek, Karawang, Cikarang, Bandung, Semarang, Solo, Yogyakarta, Malang, Surabaya, Bali, Makassar, Balikpapan, Palembang, Pekanbaru, Batam dan Medan. 

Menghindari Pemicu Asma di Rumah Sendiri

Penyebab asma secara umum adalah genetik, imunitas tubuh yang melemah, lingkungan dan adanya alergi. Orang tua, terutama ibu yang mengidap asma bisa meningkatkan risiko anak mengidap asma juga. Karena menyerang saluran pernapasan, kualitas udara di lingkungan sekitar pun turut mempengaruhi seseorang terjangkit atau kambuh asma. Asap kendaraan bermotor, asap kebakaran hutan dan asap dan debu dari industri tentu sangat tidak bersahabat untuk kesehatan saluran pernapasan. 

Selain itu, faktor pemicu bukan hanya dari lingkungan di luar ruangan, tapi juga di dalam rumah! Orang dengan reaksi alergi terhadap partikel udara seperti serbuk sari, jamur, debu dan bulu juga berisiko terserang asma. Partikel udara tersebut tentu juga banyak ditemukan di udara di sekeliling kita, termasuk di dalam rumah. 

Cara Mengurangi Partikel Debu Pemicu Asma

Namun, dengan beberapa penyesuaian yang bisa dilakukan di rumah, kita bisa mencegah agar tidak terekspos pemicu-pemicu asma dan kambuh asma, dan juga mengurangi risiko terjangkit asma. Misalnya, bersihkan perabot dan barang-barang di rumah dengan menggunakan kain pel basah atau mesin vakum. HIndari membersihkan dengan kemoceng atau sapu untuk menghindari debu mengepul di udara.

Penyesuaian lain yang dapat dilakukan adalah dengan meletakkan barang pecah belah dan perabot di dalam lemari atau rak yang memiliki pintu. Ini berguna untuk meminimalisir debu yang bersarang di barang-barang tersebut dan juga memudahkan saat sedang bersih-bersih. 

Untuk menghindari debu yang mengepul di udara, sebaiknya juga tidak menggunakan kipas angin pada kamar atau ruangan dengan pengidap asma di dalamnya. Hal ini karena kipas angin bisa membawa dan menyebar debu dan kotoran di udara sekitarnya. Kalau bisa, gunakanlah AC atau air purifier untuk memperlancar sirkulasi udara di ruangan. 

Debu juga dibawa oleh hewan peliharaan melalui bulu-bulu mereka. Karena itu, bijaklah saat merawat hewan peliharaan. Sebaiknya memang menghindari hewan berbulu, misalnya dengan memilih peliharaan berupa kura-kura atau ikan. Tapi jika tidak bisa berpisah dengan hewan kesayangan, pastikanlah untuk memandikan hewan secara rutin, dan biasakan mereka untuk tidak memasuki kamar, terutama kamar pengidap asma. 

Memanfaatkan Jasa Vakum Profesional

Selain rajin memandikan hewan peliharaan, cucilah segala kain seperti seprei, gorden dan selimut secara rutin pula. Ini karena kain dapat menjebak tungau dan partikel udara lain. Sebaiknya hindari karpet dan selimut dari bulu atau wol yang juga mudah menjadi sarang debu dan tungau. Untuk memudahkan membersihkannya, sesekali gunakan jasa penyedot debu dan tungau premium HydroClean yang berbahan dasar air dan tidak meninggalkan residu. 

Jasa HydroClean juga telah tersedia di 20 kota besar di Indonesia seperti Jabodetabek, Karawang, Cikarang, Bandung, Semarang, Solo, Yogyakarta, Malang, Surabaya, Bali, Makassar, Balikpapan, Palembang, Pekanbaru, Batam dan Medan.