Biasakan Peregangan untuk Hindari Risiko Skoliosis

Skoliosis ternyata lebih sering ditemukan pada anak usia 10 – 15 tahun, namun skoliosis yang diderita biasanya ringan. Ini menjadi salah satu alasan orang biasanya menyepelekan rasa sakit pada punggung. Padahal, skoliosis bisa menjadi tambah parah seiring bertambah usia. Skoliosis yang parah bisa menyebabkan kelemahan pada tungkai hingga gangguan jantung!

Masalahnya, penyebab skoliosis sebagian besar masih belum diketahui. Tapi ada beberapa kondisi yang bisa menjadi pemicunya, seperti cedera dan infeksi tulang belakang, serta bawaan lahir. Hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa orang dewasa bisa terlepas dari risiko skoliosis. Bahkan, generasi milenial, menurut Ahli ortopedi pendiri Schroth Best Practice (SBP) dari Jerman, Dr Hans-Rudolf Weiss, MD, rentan mengalami skoliosis.

Gaya hidup generasi milenial yang banyak duduk dan jarang berolahraga bisa menjadi pemicu timbulnya penyakit skoliosis. Weiss menyarankan para milenial tersebut untuk memulai kebiasaan hidup sehat dan memperhatikan risiko skoliosis ini. Tidak sulit, Weiss menyarankan kegiatan yang bisa diselipkan sambil bekerja, misalnya peregangan, berdiri dan berjalan-jalan kecil secara berkala. 

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) juga menyatakan pentingnya kegiatan peregangan terutama bagi pegawai kantoran dan ibu rumah tangga dengan gaya hidup banyak duduk. Peregangan sendiri adalah kegiatan untuk melemaskan atau melenturkan bagian-bagian sendi yang kaku. Ini penting dilakukan karena biasanya pekerja kantoran dan ibu rumah tangga bekerja dengan posisi yang statis dan tidak tepat.

Bagaimana cara melakukan peregangan yang baik?

Menurut Kemenkes RI, peregangan dapat dilakukan secara berkala setelah kurang lebih satu atau dua jam bekerja dengan posisi yang sama. Peregangan sendiri ada dua macam, yaitu peregangan statis dan peregangan dinamis. Lakukan gerakan peregangan pada bagian tubuh seperti kepala, leher, bahu, lengan, pinggang dan kaki yang terasa kaku.

Peregangan statis adalah meregangkan sendi dan otot lalu menahannya dalam waktu 8 – 10 detik. Peregangan dinamis, sebaliknya, adalah meregangkan sendi dan otot dengan menggerakkan bagian-bagian tubuh secara perlahan. Namun berhati-hatilah saat melakukan peregangan. Selalu lakukan peregangan dengan perlahan dan tidak dipaksakan agar tidak menimbulkan cedera. 

Pengaturan nafas juga perlu diperhatikan saat peregangan, karenanya lakukan kegiatan tersebut secara perlahan untuk menghirup oksigen secara maksimal. Oksigen akan mengalir ke otak dan membantu pikiran lebih jernih. Oksigen juga akan memberikan energi tambahan ke otak. Oleh sebab itu, sebaiknya lakukan peregangan di tempat yang nyaman dan banyak udara segar. 

Buat udara di dalam ruangan lebih segar dan bersih dengan rutin membersihkan perabot dari debu, serta secara berkala gunakan jasa penyinaran sinar UV untuk di dalam ruangan. Teknologi sinar UV saat ini sudah banyak dimanfaatkan untuk membunuh mikroorganisme seperti bakteri, virus dan jamur penyebab penyakit yang tersebar di udara sekitar kita. Dengan udara yang bersih, kegiatan peregangan pun jadi lebih maksimal. 

 

 

Referensi:

https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-4875723/banyak-kerja-kantoran-milenial-rentan-kena-skoliosis

https://www.alodokter.com/skoliosis

http://www.yankes.kemkes.go.id/read-pentingnya-peregangan-di-tempat-kerja-4888.html

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *