Awas Mitos Terkait Virus Corona Penyebab Covid-19

Pandemi covid-19 menimbulkan sejumlah kekhawatiran di masyarakat. Seiring pemberitaan mengenai jumlah kasus, informasi tidak bertanggung jawab seperti mitos virus corona juga ikut tersebar dan menambah kepanikan masyarakat.

Mitos-mitos terkait virus corona dan covid-19 tersebut membuat sejumlah fenomena seperti panic buying hingga orang-orang dalam pengawasan dipandang sebelah mata. 

Agar tidak terjebak oleh informasi yang tidak benar, Badan Kesehatan Dunia atau WHO telah menyatakan sejumlah informasi di laman resminya untuk meluruskan misinformasi yang beredar di masyarakat. Berikut hal-hal yang dikonfirmasi oleh WHO:

Virus corona SARS-CoV-2 bisa menular di daerah dengan iklim yang panas dan lembab

Berdasarkan fakta kasus yang terjadi, terutama kasus di Indonesia, virus SARS-CoV-2 ternyata bisa menular di semua wilayah, termasuk wilayah dengan iklim panas dan lembab. Begitu pula jika mengekspos tubuh ke sinar matahari yang bersuhu lebih dari 25 derajat celcius tidak akan melindungi penyakit COVID-19.

Karena itu, bersiagalah jika melakukan perjalanan ke area yang terdampak COVID-19. Tetap biasakan mencuci tangan untuk meminimalisir penyebaran virus ke dalam tubuh. 

Bila positif COVID-19 bukan berarti akan menderita penyakit tersebut seumur hidup

Sebagian besar pasien yang positif COVID-19 telah pulih berkat perawatan yang suportif. Karena itu, jika merasa sakit, segeralah obati gejala dari penyakit tersebut. Misalnya demam dan batuk. Kemudian periksakan ke fasilitas kesehatan terdekat, dan istirahatlah di dalam rumah semaksimal mungkin untuk menghindari penyebaran virus ke tubuh yang sedang kurang fit.

Jika bisa menahan napas selama 10 detik atau lebih tanpa batuk, bukan berarti terbebas dari COVID-19 

Menahan napas selama 10 detik atau lebih bukan berarti terbebas dari COVID-19 dan penyakit pernapasan lainnya. Gejala COVID-19 sendiri pada umumnya adalah batuk kering, kelelahan dan demam. Pada beberapa kasus memperlihatkan gejala pneumonia. Tes pernapasan tersebut justru bisa berbahaya. Cara terbaik untuk mendeteksi virus corona adalah dengan tes laboratorium.

Minum alkohol tidak melindungi dari COVID-19 

Banyak masyarakat salah kaprah bahwa dengan mengonsumsi alkohol dapat melindungi tubuh dari infeksi virus corona. Padahal, konsumsi alkohol yang berlebih malah dapat menambah resiko pada kesehatan. Sebaiknya hindari konsumsi alkohol dan mulailah menambah asupan makanan bergizi. 

Mandi air panas tidak mencegah dari penyakit COVID-19

Mandi air panas atau pun dengan tinggal di wilayah beriklim dingin, suhu tubuh manusia akan tetap berkisar 36.5 derajat celcius – 37 derajat celcius. Bahkan, mandi dengan air yang terlalu panas bisa sangat berbahaya. 

Cara terbaik untuk melindungi diri dari COVID-19 adalah dengan membersihkan tangan secara rutin. Ini dapat meminimalisir virus menginfeksi tubuh melalui sentuhan tangan ke mata, mulut dan hidung.

Gigitan nyamuk tidak bisa menularkan COVID-19

Belum ada penelitian yang menunjukkan bahwa COVID-19 bisa menular melalui gigitan nyamuk. Perlu diketahui bahwa virus corona adalah virus yang menyerang bagian pernapasan yang menyebar melalui droplet atau tetesan dari orang terinfeksi yang batuk atau bersin. 

Cara terbaik untuk menghindari COVID-19 tetap dengan membersihkan tangan dengan sabun dan air atau bahan berbasis alkohol yang sesuai standard. Hindari pula kontak langsung dengan orang yang sedang batuk dan bersin.

Lampu UV tidak boleh digunakan di kulit untuk membunuh virus corona

Lampu ultraviolet tidak boleh digunakan untuk mensterilkan kulit dari virus corona. Radiasi sinar UV dapat menimbulkan kerusakan pada kulit karena gelombang sinar UV dapat merusak struktur DNA kulit. Sebaiknya manfaatkan lampu UV untuk mensterilkan ruangan dan benda-benda. 

Menyemprotkan alkohol dan klorin ke tubuh tidak dapat membunuh virus corona

Menyemprot alkohol dan klorin ke tubuh secara langsung tidak akan membunuh virus yang masuk ke dalam tubuh. Malah, sebenarnya berbahaya jika zat-zat tersebut menempel di pakaian dan mengenai mata, hidung atau mulut. Memang alkohol dan klorin dapat dimanfaatkan sebagai desinfektan, tapi dengan kadar dan petunjuk yang tepat. 

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *