Waspadai Gejala Atopic Eczema

Gatal-gatal di kulit? Jangan anggap sepele. Sebab, bisa jadi itu atopic eczema, dikenal juga sebagai atopic dermatitis, atau mungkin lebih dikenal lagi sebagai dermatitis atopik atau eksema. Ada juga sih yang menyebutnya eksim. Gatal-gatal di kulit kalau sering terjadi solusinya tak cukup hanya dengan menggaruknya lho! Anda harus berupaya mengatasinya dengan cara yang benar. Lebih-lebih dermatitis atopik pada anak sering terjadi pada balita (bawah lima tahun).

Menurut Dr. dr. Zakiudin Munasir, Sp A (K) dalam bukunya, Mengenal Alergi pada Anak, eksema pada anak merupakan wujud penyakit alergi pada kulit yang sering diderita bayi. Penyakit ini sering kambuh yang bisa bikin frustrasi orangtua dan si anak, juga dokter yang menanganinya.

Apa sajakah gejala eksim?

Anak jadi rewel, juga munculnya kelainan kulit (lesi atau luka berupa kemerahan dan menggelembung) yang sering bikin anak jadi minder. Biasanya penyakit kulit ini terjadi pada seseorang yang berbakat atopik atau punya alergi yang lain, semisal pilek alergi.

Meskipun rasa gatal terjadi pada semua kasus dermatitis atopik, tapi gejala klinisnya bisa bervariasi, dari yang ringan hingga yang berat. Kalau yang ringan, kulit cenderung kering dan gatal. Kalau pada yang berat, kulit menjadi pecah-pecah dan gampang berdarah. Ihhh… ngeri juga ya!

Pada bayi, gejala eksim berupa kulit bersisik, kemerahan di pipi, kulit kepala, leher, punggung, lengan, serta bagian depan lengan dan badan. Pada anak yang lebih besar gejalanya bisa berupa kulit menjadi lebih kering dan bersisik, yang biasanya berada di bawah lipatan (lutut, siku, pergelangan tangan dan kaki, serta leher)

Dr. Zakiudin menyarankan untuk menghindari bahan iritan (penyebab iritasi) dan faktor pencetusnya. Menghindari faktor pencetusnya merupakan salah satu faktor terpenting dalam pengobatan dermatitis atopik.

Hindari faktor pencetus   

Menurut Dr. Zakiudin, menghindari alergen (pencetus alergi) di udara penyebab dermatitis atopik bisa mengendalikan gejala penyakit gatal-gatal ini. Jadi, bersihkan lingkungan sekitar Anda, termasuk rumah tentunya, dari debu dan tungau. Kalau faktor pencetusnya ditiadakan, maka  pengobatan tak dibutuhkan lagi. Tapi, kalau pembersihan lingkungan tak dilakukan secara rutin, maka lingkungan akan balik ke kondisi semula yakni banyak tungau. Kalau sudah begini, bisa kambuh (terjadi eksaserbasi) dermatitis atopiknya.

Tips perawatan penderita eksim (dermatitis atopik)

Menurut Dr. Zakiudin, beberapa upaya berikut ini bisa Anda lakukan untuk merawat penderita eksim agar cepat sembuh:

  1. Atur dan jaga suhu dan kelembabapan udara sekitar (18-20 derajat celsius) untuk mencegah keringat berlebihan. Jaga kelembapan udara sekitar 30-50 persen untuk mencegah kekeringan kulit.
  2. Lindungi dan usahakan agar kuit selalu lembap. Gunakan krim atau emolien pada kulit sebelum si penderita pergi ke luar rumah saat udara dingin dan sebelum tidur. Langkah ini tetap dilakukan meskipun gejala penyakit sudah tak ada lagi. Secara rutin gunakan krim dan emolien setiap habis mandi.
  3. Kuku harus pendek dan bersih. Sebab, garukan kuku bisa menimbulkan lecet, yang merupakan akses bagi infeksi sekunder. Kalau perlu, pakai sarung tangan pada saat idur untuk mencegah garukan yang tak disadari.
  4. Pakai baju berbahan katun yang longgar. Bahan wol, sutera, poliester, nilon, dan linen, lebih menimbulkan iritasi kulit ketimbang katun.
  5. Gunakan sabun yang lembut. Kalau menggunakan detergen, pilih yang tidak wangi. Hindari penggunaan pelembut pakaian dan pemutih baju. Bilas pakaian yang dicuci minimal dua kali untuk menghilangkan residu detergen.
  6. Mandi setiap hari. Basahi badan dengan air hangat kuku selama 10 menit (jangan lama-lama). Kemudian olesi lesi kulit dan sekitarnya dengan emolien atau pelembap.

Solusi permanen

Untuk mencegah terjadinya dermatitis atopik, sangat penting unguk menjaga kebersihan lingkungan, baik di dalam maupun di luar rumah. Secara berkala sedot debu dan tungau, lebih-lebih bila penghuni rumah ada yang pernah menderita penyakit dermatitis atopik.

**

Sumber:

Buku Mengenal Alergi pada Anak oleh Dr. dr. Zakiudin Munasir, Sp.A(K), Penerbit Buku Kompas, 2016.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *