Cegah Anggota Keluarga Terserang Gatal-Gatal

Gatal-gatal pada kulit bisa saja terjadi pada siapa saja. Termasuk pada anak-anak. Gatal merupakan reaksi tubuh atas sesuatu, semisal digigit nyamuk.

Jadi sebenarnya merupakan reaksi normal tubuh. Tapi, kalau kejadiannya sering atau berulang-ulang mungkin saja bukan gatal-gatal biasa. Lalu apa? Bisa saja itu merupakan salah satu bentuk reaksi alergi pada kulit. Bentol kemerahan dengan rasa gatal ini disebut urtikaria, kaligata, atau biduran (biduren).

Dimana Letak Bentol Kemerahan Biduran?

Bentol kemerahan yang gatal itu bisa berada di satu tempat di permukaan kulit, bisa juga di seluruh tubuh. Bisa berlangsung singkat (beberapa jam atau hari), tapi bisa juga lama (berminggu-minggu atau bahkan tahunan). Ukuran bentolnya bisa kecil, bisa juga besar. Kalau ditekan, bentol kemerahan tersebut berubah jadi pucat.

Berbeda dengan alergi pada kulit yang disebut eksema/eksim (dermatitis alergi), urtikaria sering sulit diketahui faktor pencetusnya (alergennya) saking banyaknya. Menurut Dr. dr. Zakiudin Munasir, Sp.A (K) dalam bukunya, Mengenal Alergi pada Anak, urtikaria ada dua macam, yakni yang akut dan kronis.

Urtikaria Akut

Jenis urtikaria ini sering terjadi pada anak yang biasanya sembuh spontan tanpa pengobatan. Gatal-gatalnya bisa beberapa menit, beberapa hari, tapi bisa juga sampai 6 minggu lho! Pencetusnya bisa berupa:
1. Inveksi virus, semisal flu.
2. Obat-obatan, baik yang diminum, dioleskan, disuntikkan, dan cara yang lainnya.
3. Makanan tertentu.
4. Material lateks.
5. Gigitan atau sengatan serangga.
6. Aktivitas fisik yang berlebihan.

Urtikaria Kronis

Kalau gatal-gatalnya berlanjut dan lebih dari 6 minggu, disebut urtikaria kronis atau menahun. Kabar baiknya, jenis urtikaria kronis ini jarang terjadi pada anak. Apa penyebabnya? Menurut Dr. Zakiudin, sulit diketahui penyebabnya. Bisa karena infeksi atau penyakit autoimun (sistem imun berekasi terhadap jaringan tubuh sendiri). Adanya infeksi kronis dalam tubuh sering juga bisa mencetuskan terjadinya urtikaria kronis, semisal infeksi saluran kencing, infeksi karies gigi, sinusitis.

Urtikaria Bukan Karena Alergi

Ternyata ada juga lho urtikaria yang bukan disebabkan oleh reaksi alergi. Mau Tahu?
1. Urtikaria karena goresan di kulit.
2. Urtikaria solar, disebabkan oleh sengatan sinar matahari.
3. Urtikaria dingin. Bukan merupakan reaksi alergi karena sesuatu yang dingin, semisal udara atau es. Namun, disebabkan oleh Sel Mast di kulit yang mengalami degranulasi (pecah), sehingga keluarlah zat yang disebut histamin. Zat ini menimbulkan gejala urtikaria.
4. Urtikaria kolinergik. Gejala ini muncul setelah olahraga berat, mandi air panas, atau karena kondisi emosional. Sehingga, terjadi ketidakseimbangan antara saraf simpatis dan parasimpatis yang menyebabkan Sel Mast di kulit bergranulasi (pecah) mengeluarkan histamin. Lantas muncullah gejala urtikaria.
5. Urtikaria tekanan. Bentol kemerahan dan gatal-gatal timbul di kulit akibat mengalami tekanan yang konstan, semisal pakaian ketat, bawa barang berat yang menggesek kulit.
6. Urtikaria karena gigitan serangga. Bisa karena zat racun dari air liur serangga atau alergi terhadap air liur serangga.
7. Urtikaria karena infeksi.

Urtikaria Beda Bentuk

Bentuk lain dari urtikaria disebut angioedema. Apa saja sih bedanya?
1. Bentolnya lebih nyata dan tidak berwarna kemerahan.
2. Munculnya di bagian lapisan kulit yang lebih dalam, sehinga tidak terasa gatal-gatal karena tidak merangsang ujung serabut saraf di permukaan kulit.
3. Lokasi tubuh yang gampang terkena angioedema yakni di jaringan longgar semisal kelopak mata, bibir, dan alat kelamin.
4. Meskipun tidak menimbulkan rasa gatal-gatal, tapi kalau menyerang tenggorokan atau saluran napas atas, bisa menimbulkan sumbatan jalan napas yang mengancam jiwa. Kalau sudah seperti ini, maka penderita butuh pengobaan darurat atau operasi pelubangan jalan napas (trakeostomi) pada kondisi berat.

Menurut Dr. Sjahwitri Siregar, ahli alergi pada anak di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, dalam Kumpulan Artikel Kesehatan Intisari 1, alergi pada kulit memang bisa berupa urtikaria. Menurutnya pula, alergi tidak bisa disembuhkan karena merupakan bawaan lahir. Faktor genetis ini tak bisa diubah, tapi pencetusnya (alergen) bisa dicegah sehingga alergi tak muncul.

Sjahwitri menyebut salah satu zat yang memicu alergi adalah bahan hirupan (inbalant) semisal debu rumah, tungau, asap rokok, bulu binatang. Berdasarkan hasil penelitian Dr. Sjahwitri di RSCM, dermatitis alergi dan urtikaria merupakan alergi terbanyak yang menyerang anak, selain asma bronkial (pada pernapasan), rinitis alergi (pada hidung), dan konjungtivis alergi (pada mata). Pengobatan terbaik untuk alergi, baik menurut Dr. Sjahwitri maupun Dr. Zakiudin, adalah dengan menghindari alergen (penyebab alergi). Sebagaimana kita ketahui, alergen bisa berupa debu, tungau, kuman, dan gigitan/sengatan serangga.

Membuat rumah bebas debu dan tungau, juga serangga, memang tidaklah mudah. Dibutuhkan kerajinan dan ketekunan. Sebut saja, mencuci gorden dan selimut paling tidak 2 minggu sekali. Mengganti seprei dan sarung bantal sesering mungkin. Membersihkan lemari, rak, dengan lap basah. Menyedot karpet dan kain sofa. Mengepel lantai dengan kain basah sekurang-kurangnya sehari sekali.

Cara termudah adalah dengan memanfaatkan jasa profesional sedot debu dan tungau HydroClean Service. Dengan memvakum secara berkala menggunakan HydroClean, bisa mencegah perkembangbiakan tungau penyebab alergi gatal yang terdapat pada bantal, kasur, sofa, karpet, gorden dan soft furniture lainnya. HydroClean adalah pioneer jasa premium pembersih tungau dan debu profesional dengan HydroAllergenic System, berteknologi separator, memiliki daya hisap lebih dari 20.000 rpm yang mampu memisahkan udara, partikel debu dan tungau yang terhisap dengan pengisolasian 99.96% partikel dalam media air sehingga tidak berterbangan ke udara, 100% kering dan bebas bahan kimia. Untuk info harga dan cara order klik nomor WhatsApp berikut 081293321250.
*
Sumber:
Buku Mengenal Alergi pada Anak oleh Dr. dr. Zakiudin Munasir, Sp.A (K).
Buku Kumpulan Artikel Kesehatan Intisari 1 oleh Penerbit Majalah Intisari.
*

Spread the love