Merawat Sepatu Kulit Tidak Sulit, Ini Caranya

Sepatu berbahan kulit biasanya jadi pilihan karena kesannya yang berkelas dan juga terbuat dari bahan kuat, terutama untuk kalangan pria. Sepatu kulit juga cocok digunakan untuk berbagai acara formal, seperti upacara hingga acara non formal seperti hang-out sepulang kerja. Biasanya harga sepatu kulit memang agak lebih tinggi daripada sepatu berbahan canvas, misalnya.

Namun tidak semua sepatu kulit terbuat dari kualitas kulit yang sama. Misalnya ada sepatu yang sudah ditimpa dengan cat tebal sampai tidak terasa kulitnya. Ada juga sepatu yang teksturnya masih terasa seperti kulit sungguhan. Jahitan sepatu juga bisa terlihat dengan diraba, apakah rapi atau tidak. Ini harus diperhatikan agar harga yang dikeluarkan sesuai dengan kualitas sepatu yang diharapkan. 

Tentunya, tahap seleksi tersebut adalah tahap awal untuk menentukan langkah-langkah perawatan sepatu kulit. Dengan memilih sepatu kulit berkualitas baik, perawatan pun jadi tidak terlalu sulit. Ini karena masalah yang biasanya terjadi pada sepatu kulit adalah permukaan yang mengusam, lekukan di bagian depan sepatu dan juga material kulit yang mulai mengelupas.

Kerutan dan lipatan berpotensi merusak permukaan sepatu kulit. Begitu pula pengelupasan material kulit yang terjadi akibat paparan sinar matahari. Lalu bagaimana mengatasi hal-hal tersebut dan bagaimana merawat sepatu kulit agar tampilannya tetap terjaga?

Mencuci

Jika sepatu kulit terkena kotor dan debu, bersihkan saja dengan kain basah. Jika sangat kotor dan membutuhkan pembersihan ekstra, gunakan sabun khusus untuk sepatu. Jika tali sepatu ingin dibersihkan, lepas dulu tali dari sepatunya dan cucilah secara terpisah, dan keringkan sebelum dipasangkan kembali ke sepatu. Hindari juga mengguyur sepatu kulit langsung dengan air karena bisa membuat material kulit terkelupas.

Menyemir

Pilih warna semir yang sesuai dengan warna sepatu kulit, kemudian semir dengan sikat halus khusus semir. Biasanya produk semir sepatu memberikan sikat khusus pada produknya untuk kepraktisan. Semir sepatu kulit secara rutin. Saat proses pengeringan, pastikan dikeringkan di udara terbuka atau diangin-anginkan, jangan menggunakan pemanas elektrik. Ketika semir sudah kering, seka sepatu dengan kain basah.

Sebaiknya tidak sering dipakai

Sebaiknya sepatu tidak sering-sering dipakai, meskipun untuk sebagian orang, hal ini agak memberatkan. Tidak dapat dipungkiri bahwa daya pakai sebuah bahan akan cepat habis bila sering digunakan, tidak terkecuali sepatu kulit. Karena itu agar sepatu kulit tetap awet, memang sebaiknya tidak sering-sering digunakan. Untuk menghadiri acara non-formal, bisa gunakan sepatu atau sandal daily wear saja.

Mencuci Sprei dan Pakaian yang Aman di Tengah Pandemi

Karantina mandiri yang dilakukan di hampir seluruh masyarakat saat ini menciptakan kebiasaan baru. Termasuk dalam menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Badan Kesehatan Dunia atau WHO memberikan saran-saran yang dapat dilakukan untuk membuat karantina mandiri menjadi lebih efektif dalam menekan angka penyebaran virus corona penyebab pandemi COVID-19.

Salah satu yang dianjurkan adalah mencuci pakaian setiap selesai dipakai dari luar rumah. Ini disebabkan karena pada penelitian terbaru, virus khususnya virus corona dapat bertahan hidup di permukaan benda mati, termasuk bahan pakaian. Virus dapat bertahan di benda mati dalam jangka waktu yang beragam, mulai dari hitungan jam hingga hari. Kegiatan mencuci baju pun harus ikut diperhatikan.

Masalahnya, dengan logika yang sama, apakah aman untuk mencuci dan menjemur pakaian di luar rumah terutama bagi masyarakat kelas menengah ke bawah yang tidak memiliki ruang khusus cuci di rumahnya? 

Apalagi, bahan pakaian yang terbuat dari kain dan lapis-lapis serat lebih susah dibersihkan dari kontaminasi virus dibanding material padat seperti kayu dan plastik yang dapat diseka. “Bahan garmen harus dicuci dengan benar, seperti direndam dan dicuci dengan detergen atau proses dry-cleaning,” kata general manager perusahaan Laundry, Jeeves Hong Kong, Ryan Merszei seperti dilansir dari Kompas

Dilansir dari Halodoc, Mary Johnson, ilmuwan di Tide and Downy mengatakan bahwa pakaian yang telah digunakan dari luar rumah dapat dicuci dengan air dingin dengan diberi takaran deterjen yang sesuai. Lalu untuk pakaian dalam, pakaian olahraga, handuk, dan sprei perlu diperlakukan ekstra, yaitu dicuci dalam air hangat dengan suhu sekitar 60 derajat Celcius atau lebih tinggi dan diberi takaran deterjen yang sesuai. 

Namun jangan lupa untuk membaca label cara merawat bahan garmen tertentu yang disarankan agar pakaian tetap aman dan tidak rusak. Bila tidak dapat langsung mencuci pakaian, simpan pakaian dalam kantong khusus terlebih dulu sampai sempat untuk mencucinya. Saat mengosongkan kantong tersebut, pastikan untuk mendisinfeksi kantongnya. Jangan lupa pula untuk mencuci tangan dengan air dan sabun setelah menyentuh pakaian kotor. 

Lalu bagaimana cara menjemurnya? Saat ini, disarankan untuk mencuci dan mengeringkan pakaian dengan mesin cuci yang memiliki pengering. Ini juga dapat mengeringkan droplet virus yang menempel di pakaian. Kita bisa menggunakan jasa laundry pakaian bagi yang tidak memiliki mesin cuci. 

Namun tidak perlu khawatir, karena berdasarkan penelitian, virus di permukaan padat dan sering tersentuh seperti pegangan pintu dan saklar lampu lebih mudah menularkan virus daripada virus di pakaian. Jadi, tetaplah selalu jaga kebersihan diri sendiri dengan mencuci tangan, menggunakan masker saat keluar rumah dan menerapkan social distancing. 

 

Lawan Pandemi COVID-19, Ini Kelemahan Virusnya

HydroClean Indonesia - ilustrasi mencuci tangan bisa melemahkan virus

Di Indonesia, pandemi COVID-19 telah banyak menginfeksi sejumlah orang dalam waktu singkat. Masyarakat mulai berbagai upaya mulai dari tes kesehatan dini hingga mengaplikasikan penggunaan cairan-cairan kimia yang bisa membunuh dan melindungi dari paparan virus. 

Terdengar mengkhawatirkan, apalagi vaksin untuk penyakit ini belum ditemukan secara pasti. Tapi ternyata, virus SARS-CoV-2 penyebab pandemi ini juga memiliki kelemahan! Tentu kelemahan ini yang saat ini sedang dipelajari oleh para peneliti untuk menemukan vaksin yang tepat. 

Untuk masyarakat awam, kelemahan-kelemahan tersebut bisa dimanfaatkan sebagai pedoman untuk melakukan tindakan preventif. Dilansir dari Tempo, berikut kelemahan virus SARS-CoV-2:

Dapat larut dengan sabun

Susunan virus corona terdiri dari tiga bagian, yaitu inti virus berupa DNA atau RNA, protein sebagai bahan baku virus untuk reproduksi dan lapisan pelindung luar yang terbuat dari lemak. Karena itu, kita disarankan untuk mencuci tangan dengan sabun karena sabun dapat memecah lemak pada pelindung luar virus.

Setelah pelindung luarnya luruh, bahan aktif pada sabun untuk membunuh virus pun dapat dengan mudah masuk dan menyabotase bagian dalam virus hingga membuat virus menjadi tidak aktif. Tiga bagian tubuh virus yang tidak terikat dengan kuat satu sama lain yang membuat skenario tersebut terjadi.

Oleh sebab itu, Badan Kesehatan Dunia atau WHO menghimbau untuk mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun secara rutin. Biasakan, ya!

Dapat dilawan dengan antibodi tubuh

Perlu diingat bahwa infeksi COVID-19 terjadi dengan beberapa tingkat keparahan, termasuk yang memiliki gejala ringan. Nah penderita gejala ringan inilah yang dapat melawan virus dengan sendirinya selama daya tahan tubuhnya baik. 

Sistem imun dalam tubuh akan berfungsi saat ada partikel asing masuk ke dalam tubuh, termasuk virus, tidak peduli virus apapun. Maka dari itu, saat tubuh terinfeksi virus corona, antibodi nanti akan terbentuk untuk melawan virus ini. Tentu semakin kuat antibodi, semakin kuat juga mereka melawan virus yang masuk. 

Karena itu, penting menjaga pola makan bergizi sebagai nutrisi untuk sistem imun kita agar dapat berfungsi dengan baik terutama di tengah pandemi seperti sekarang.

Virus corona bisa dilumpuhkan dengan desinfektan

Sebagai catatan juga, virus corona beragam jenisnya. Virus corona penyebab pandemi SARS, epidemi MERS dan COVID-19 yang terbaru ini, semuanya berbeda. Tapi diketahui bahwa secara umum karakter mereka cukup mirip. 

Selagi penelitian mengenai SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 dilakukan, tindakan preventif dilakukan dengan berpatokan pada penelitian sebelumnya saat pandemi SARS dan MERS beberapa tahun silam. Saat itu, penelitian menunjukkan bahwa virus corona tersebut lemah dengan bahan aktif pada desinfektan. 

Ini poin penting karena ternyata, virus corona penyebab SARS dan MERS saat itu dapat bertahan di permukaan benda mati, dengan lama waktu yang berbeda-beda tergantung material benda. Hal tersebut pun dapat diatasi dengan menyapukan larutan desinfektan secara seksama di permukaan benda. 

Larutan desinfektan yang baik bisa terbuat dari bahan aktif hidrogen peroksida 0,5%, atau sodium hipoklorit 0,1%. Tentunya pastikan kadar bahan aktif sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan WHO. 

Mari selalu lakukan pencegahan untuk menjauhkan diri dan keluarga dari risiko terkontaminasi virus dan bakteri penyebab penyakit. Terutama di periode karantina saat ini, tetap selalu jaga kebersihan lingkungan rumah.  

Layanan HydroClean vacum debu dan tungau sudah dapat dinikmati di kota-kota besar di Indonesia, meliputi Jabodetabek, Karawang, Cikarang, Bandung, Semarang, Solo, Yogyakarta, Malang, Surabaya, Bali, Makassar, Balikpapan, Palembang, Pekanbaru, Batam dan Medan.

 

Referensi:

Rabenau, Holger & Kampf, Günter & Cinatl, Jindrich & Doerr, Hans Wilhelm. (2005). Efficacy of various disinfectants against SARS coronavirus. The Journal of hospital infection. 61. 107-11. 10.1016/j.jhin.2004.12.023.

Makan Sehat, Tindakan Preventif di Tengah Pandemik

HydroClean Indonesia - ilustrasi makan apel sebagai langkah preventif

Pembatasan sosial yang tengah menjadi perbincangan publik Indonesia menimbulkan sejumlah perubahan mendadak di aspek kehidupan masyarakat. Beberapa fenomena seperti panic buying dan kelangkaan bahan sembako kerap terjadi dalam menghadapi situasi pandemik saat ini. Masyarakat berlomba menyiapkan jenis makanan beku dan makanan kemasan. Padahal sebenarnya kedua makanan tersebut tidak disarankan dikonsumsi berkepanjangan.

Selama masa pembatasan sosial, sebaiknya tetap jaga kesehatan dengan menerapkan kebiasaan hidup sehat seperti rutin beraktifitas fisik, menghindari merokok dan minum alkohol serta menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar. Ini juga penting untuk tetap menjaga daya tahan tubuh, apalagi di masa yang rawan terkontaminasi virus seperti saat ini.

Makan sehat untuk organ yang diserang virus corona

Virus corona terbaru, SARs-CoV-2, menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), merupakan virus yang menginfeksi saluran pernapasan. Jadi, selain menjaga daya tahan tubuh secara umum, kita harus memperhatikan kesehatan saluran pernapasan terutama tenggorokan dan paru-paru. Karena merupakan organ dalam dan vital, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan paru-paru.

Pertama, tentunya makan makanan bergizi. Makanan, apapun itu, akan diserap tubuh dan nutrisinya akan diedarkan ke seluruh organ tubuh oleh sel-sel darah. Nutrisi ini nantinya digunakan organ-organ untuk bekerja. Semakin baik nutrisinya, tentu semakin efektif kerja organ. 

Disarankan juga oleh Medical Daily untuk mulai rutin mengonsumsi makanan yang baik untuk organ-organ pernapasan, seperti berikut:

Teh Hijau

Teh hijau kaya polifenol dan antioksidan yang bisa membantu menekan pertumbuhan sel kanker di organ paru-paru dan dapat mengurangi risiko penyakit paru obstruktif kronis.

Sayuran Hijau

Sayuran berwarna hijau memiliki nutrisi seperti serat, mineral, antioksidan dan vitamin yang berguna untuk kesehatan paru-paru. Apalagi, sayuran hijau seperti bayam dan kangkung juga mudah didapat.

Apel

Apel juga sudah lama dikenal memiliki phytochemical untuk antioksidan yang juga dapat membantu meningkatkan fungsi paru-paru.

Ikan Salmon

Dikenal sebagai sumber asam lemak omega-3 anti-inflamasi, ikan salmon dapat membantu menjaga kesehatan paru-paru. Kandungan seleniumnya juga berperan sebagai antioksidan dan menjaga sistem imun tubuh.

Bawang Putih

Beberapa waktu lalu bawang putih ramai diperbincangkan karena dipercaya dapat meningkatkan kekebalan tubuh dari virus corona, hingga WHO memberikan keterangan di laman resminya bahwa bawang putih tidak dapat menyembuhkan COVID-19. Namun, mengonsumsi bawang putih secara rutin dapat mengurangi risiko kanker paru. 

Tetap pastikan kebersihan sekitar

Jangan lupa juga untuk memastikan kebersihan makanan bahkan buah dan sayur yang akan dikonsumsi dari kontaminasi udara luar. Tetap cuci bahan makanan hingga bersih dengan air dan sabun cuci sayur. Untuk alternatif, kita bisa menggunakan air cuka, air garam dan air baking soda.

Menjaga kebersihan lingkungan sekitar terutama rumah tak kalah penting. Apalagi di periode karantina seperti sekarang, sebaiknya mulai perhatikan kebersihan rumah secara menyeluruh agar lingkungan rumah tetap sehat untuk keluarga. 

Sehat Jiwa dan Pikiran Selama Swakarantina

HydroClean Indonesia - ilustrasi yoga

Saat ini, sebagian masyarakat Indonesia tengah menjalani swakarantina atau self-quarantine di tempat singgah masing-masing. Ini berguna untuk menekan angka penyebaran virus SARS-CoV-2 penyebab pandemi covid-19. Mulai dari orang tua hingga anak-anak di usia sekolah. Beragam keluhan pun bermunculan terkait perubahan kebiasaan rutin yang mendadak harus dikerjakan dari rumah.

 

Hal ini tentu tidak jarang membuat bosan, bahkan stres. Meski sudah mempersiapkan diri dengan persediaan makanan hingga stok film-film menarik untuk menghilangkan kejenuhan, tetap saja bagi sebagian orang, berkumpul di luar rumah dan bersosialisasi langsung dengan teman-teman adalah kenikmatan yang tidak dapat tergantikan. Apalagi, selama karantina, kita banyak terpapar informasi yang tidak jarang malah menambah kekhawatiran.

Ingatlah bahwa menjaga pikiran tetap segar dan positif adalah salah satu kunci untuk tetap bugar, terutama saat pandemi seperti sekarang ini. Mulai tanamkan pada diri bahwa kegiatan karantina dan pembatasan sosial ini sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Cara ini diharap dapat menjadi andil bagi kondisi kritis di Indonesia saat ini. Seperti yang diketahui, per Selasa (7/4/20), sebanyak 209 jiwa meninggal akibat covid-19. 

Selain itu, berikut hal-hal yang bisa dilakukan selama beraktifitas di rumah untuk menjaga kesehatan mental:

Tetap jalankan rutinitas harian

Sebaiknya tetaplah melakukan rutinitas harian yang biasa dilakukan sebelum karantina. Mulai dari jam bangun tidur, mandi pagi dan sarapan. Hindari bermalas-malasan dengan baju tidur yang belum diganti, karena akan menghambat produktivitas dan malah memicu stres karena gaya hidup tidak sehat.

Menyelesaikan aktivitas yang tertunda

Masa karantina adalah masa dimana kita bisa mengerjakan bahkan menyelesaikan berbagai kegiatan yang tertunda saat beraktivitas normal. Misalnya membersihkan rumah, merapikan barang-barang di kamar, melanjutkan blog pribadi hingga menyelesaikan kelas-kelas daring yang sempat tertunda.

Belajar memasak resep baru

Melakukan kegiatan rutin di rumah kadang bisa membuat jenuh. Apalagi jika ada anak-anak di rumah. Anak-anak akan merasa senang jika melakukan hal baru. Saat di rumah, kita bisa mengajak dan mengajari anak memasak atau mencoba resep-resep yang mereka senangi di buku resep atau di internet. Memasak juga bisa melatih anak menjadi lebih kreatif.

Memulai bercocok tanam sederhana di teras atau balkon

Bercocok tanam dengan menanam benih, mencangkok tanaman di pekarangan atau mencoba hidroponik sederhana bisa menjadi pengalaman menyenangkan selama karantina di rumah, Ini karena saat beraktifitas normal, rutinitas di luar sudah cukup menyita waktu sehingga kita tidak berkesempatan mencoba hal baru. Bercocok tanam juga bisa menumbuhkan rasa tanggung jawab dan cinta kepada alam. 

Namun kita tidak perlu merasa tertekan dengan goals yang ingin dituju selama karantina. Kita juga bisa memiliki waktu sendiri untuk mencemaskan hal-hal terkait pandemi, khususnya. Tak perlu minder dengan orang lain yang lebih produktif daripada kita. Tetaplah menjaga semangat untuk menjalani karantina dengan baik dan benar sebagai fokus utama. Semoga kita semua dapat melewati masa sulit ini bersama.

Manfaat Sinar Matahari untuk Daya Tahan Tubuh

HydroClean Indonesia - Ilustrasi berjemur

Beragam usaha preventif dilakukan masyarakat untuk menjaga diri mereka di tengah pandemi covid-19 yang tengah merebak di Indonesia saat ini. Mulai dari mencuci tangan secara rutin, mengaplikasikan desinfektan ke lingkungan sekitar hingga menkonsumsi bermacam asupan makanan dan minuman bergizi untuk meningkatkan kekebalan tubuh. 

Dalam memerangi virus corona SARS-CoV-2 penyebab pandemi covid-19, pertahanan tubuh sangat berperan. Saat ini sebagian pemerintah setempat menerapkan kebijakan karantina untuk mencegah masyarakat terpapar resiko virus tersebut. Namun tidak semua lapisan masyarakat dapat menjalankan karantina di rumah karena tuntutan pekerjaan. Karena itu, usaha peningkatan daya tahan tubuh perlu diperbanyak.

Berjemur untuk meningkatkan daya tahan

Salah satu cara paling mudah untuk meningkatkan kekebalan tubuh dari virus penyebab penyakit adalah dengan berjemur di bawah sinar matahari. Sinar matahari dipercaya sejak dulu dapat membuat tubuh tetap bugar dan fit. Ini karena sinar matahari memiliki partikel UVB yang bisa memberikan kebutuhan vitamin D pada tubuh.

Menurut Finny Fitry Yani dari Divisi Respirologi Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, seperti ditulis di artikelnya Peran Vitamin D pada Penyakit Respiratori Anak, menulis bahwa Vitamin D dapat dipertimbangkan sebagai salah satu alternatif untuk suplemen terapi.

Vitamin ini dapat berperan dalam pencegahan maupun pengobatan penyakit yang berhubungan dengan respiratori, seperti tuberkulosis, infeksi respiratori akut, dan asma. Covid-19, seperti dilansir dari alodokter, merupakan penyakit yang menyerang sistem pernapasan. Dengan berjemur, kita bisa mendapat asupan vitamin D secara gratis.  

Dilansir dari laman resmi UGM, Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM, Prof.dr. Madarina Julia, Sp.A(K),MPH.,Ph.D., mengatakan bahwa vitamin D memiliki efek imunomodulator yang dapat memperbaiki sistem imun tubuh. Sinar matahari dengan UVB memproduksi vitamin D melalui pembakaran kolesterol di bawah jaringan kulit. 

Namun perlu diperhatikan bahwa sinar matahari juga mengandung UVA yang justru berbahaya bagi kesehatan kulit karena dapat menyebabkan kanker kulit. Karena itu, sebaiknya tidak berlama-lama berjemur di bawah paparan sinar matahari langsung, dan sebaiknya pakai tabir surya terlebih dahulu sebelum berjemur untuk menangkal efek buruk sinar matahari ke kulit.

Waktu berjemur yang tepat 

Prof. Madarina mengatakan bahwa waktu berjemur paling efektif adalah saat bayangan tubuh lebih pendek dari tinggi badan, yaitu sekitar mulai pukul 10.00 hingga 15.00. Ternyata jika berjemur dilakukan lebih pagi malah kurang baik terutama di daerah perkotaan. Ini karena logam berat masih terkonsentrasi di dekat permukaan dekat udara pagi.

Selain itu, pada pagi hari, kandungan sinar matahari belum mencukupi kebutuhan tubuh. Menurut dr Tan Shot Yen, seorang ahli gizi komunitas, seperti dilansir Detik, kandungan yang terpenting yang dibutuhkan tubuh dari sinar matahari adalah sinar UVB. Namun sinar UVB gelombangnya lebih pendek daripada sinar UVA, jadi harus menunggu matahari sedikit naik. Jam 10.00 adalah waktu yang tepat. 

Awas Mitos Terkait Virus Corona Penyebab Covid-19

Pandemi covid-19 menimbulkan sejumlah kekhawatiran di masyarakat. Seiring pemberitaan mengenai jumlah kasus, informasi tidak bertanggung jawab seperti mitos virus corona juga ikut tersebar dan menambah kepanikan masyarakat.

Mitos-mitos terkait virus corona dan covid-19 tersebut membuat sejumlah fenomena seperti panic buying hingga orang-orang dalam pengawasan dipandang sebelah mata. 

Agar tidak terjebak oleh informasi yang tidak benar, Badan Kesehatan Dunia atau WHO telah menyatakan sejumlah informasi di laman resminya untuk meluruskan misinformasi yang beredar di masyarakat. Berikut hal-hal yang dikonfirmasi oleh WHO:

Virus corona SARS-CoV-2 bisa menular di daerah dengan iklim yang panas dan lembab

Berdasarkan fakta kasus yang terjadi, terutama kasus di Indonesia, virus SARS-CoV-2 ternyata bisa menular di semua wilayah, termasuk wilayah dengan iklim panas dan lembab. Begitu pula jika mengekspos tubuh ke sinar matahari yang bersuhu lebih dari 25 derajat celcius tidak akan melindungi penyakit COVID-19.

Karena itu, bersiagalah jika melakukan perjalanan ke area yang terdampak COVID-19. Tetap biasakan mencuci tangan untuk meminimalisir penyebaran virus ke dalam tubuh. 

Bila positif COVID-19 bukan berarti akan menderita penyakit tersebut seumur hidup

Sebagian besar pasien yang positif COVID-19 telah pulih berkat perawatan yang suportif. Karena itu, jika merasa sakit, segeralah obati gejala dari penyakit tersebut. Misalnya demam dan batuk. Kemudian periksakan ke fasilitas kesehatan terdekat, dan istirahatlah di dalam rumah semaksimal mungkin untuk menghindari penyebaran virus ke tubuh yang sedang kurang fit.

Jika bisa menahan napas selama 10 detik atau lebih tanpa batuk, bukan berarti terbebas dari COVID-19 

Menahan napas selama 10 detik atau lebih bukan berarti terbebas dari COVID-19 dan penyakit pernapasan lainnya. Gejala COVID-19 sendiri pada umumnya adalah batuk kering, kelelahan dan demam. Pada beberapa kasus memperlihatkan gejala pneumonia. Tes pernapasan tersebut justru bisa berbahaya. Cara terbaik untuk mendeteksi virus corona adalah dengan tes laboratorium.

Minum alkohol tidak melindungi dari COVID-19 

Banyak masyarakat salah kaprah bahwa dengan mengonsumsi alkohol dapat melindungi tubuh dari infeksi virus corona. Padahal, konsumsi alkohol yang berlebih malah dapat menambah resiko pada kesehatan. Sebaiknya hindari konsumsi alkohol dan mulailah menambah asupan makanan bergizi. 

Mandi air panas tidak mencegah dari penyakit COVID-19

Mandi air panas atau pun dengan tinggal di wilayah beriklim dingin, suhu tubuh manusia akan tetap berkisar 36.5 derajat celcius – 37 derajat celcius. Bahkan, mandi dengan air yang terlalu panas bisa sangat berbahaya. 

Cara terbaik untuk melindungi diri dari COVID-19 adalah dengan membersihkan tangan secara rutin. Ini dapat meminimalisir virus menginfeksi tubuh melalui sentuhan tangan ke mata, mulut dan hidung.

Gigitan nyamuk tidak bisa menularkan COVID-19

Belum ada penelitian yang menunjukkan bahwa COVID-19 bisa menular melalui gigitan nyamuk. Perlu diketahui bahwa virus corona adalah virus yang menyerang bagian pernapasan yang menyebar melalui droplet atau tetesan dari orang terinfeksi yang batuk atau bersin. 

Cara terbaik untuk menghindari COVID-19 tetap dengan membersihkan tangan dengan sabun dan air atau bahan berbasis alkohol yang sesuai standard. Hindari pula kontak langsung dengan orang yang sedang batuk dan bersin.

Lampu UV tidak boleh digunakan di kulit untuk membunuh virus corona

Lampu ultraviolet tidak boleh digunakan untuk mensterilkan kulit dari virus corona. Radiasi sinar UV dapat menimbulkan kerusakan pada kulit karena gelombang sinar UV dapat merusak struktur DNA kulit. Sebaiknya manfaatkan lampu UV untuk mensterilkan ruangan dan benda-benda. 

Menyemprotkan alkohol dan klorin ke tubuh tidak dapat membunuh virus corona

Menyemprot alkohol dan klorin ke tubuh secara langsung tidak akan membunuh virus yang masuk ke dalam tubuh. Malah, sebenarnya berbahaya jika zat-zat tersebut menempel di pakaian dan mengenai mata, hidung atau mulut. Memang alkohol dan klorin dapat dimanfaatkan sebagai desinfektan, tapi dengan kadar dan petunjuk yang tepat. 

Pelajaran Berharga dari Pandemi Influenza 1918

Pandemik covid-19 yang tengah dialami masyarakat dunia saat ini, sebenarnya pernah juga dialami seratus tahun silam. Bedanya, pada tahun 1918 masyarakat dunia dikejutkan dengan penyebaran virus penyebab penyakit influenza, yaitu rhinovirus. Sedangkan covid-19 disebabkan oleh virus corona golongan SARS-CoV-2. Gejalanya sendiri kurang lebih serupa antara influenza dengan covid-19. 

Langkah yang dilakukan pemerintah setempat dalam menanggulangi kasus pandemik covid-19 ini juga mirip dengan yang dilakukan pemerintah seratus tahun silam dalam menghadapi pandemik influenza. Mulai dari memberlakukan karantina dan isolasi serta tindakan pencegahan dengan melarang sejumlah pertemuan publik. 

Teknik baru: terapi luar ruangan

Dikutip dari tulisan Richard Hobday dalam mikroblognya Coronavirus and the Sun: a Lesson from the 1918 Influenza Pandemic, ada suatu teknik yang tercatat dapat membantu proses pemulihan pasien pandemi influenza pada tahun 1918 lalu. Karena gejala yang diperlihatkan mirip, dan pendekatan pertama yang diambil pemerintah untuk menghadapinya juga sama, diharapkan teknik ini dapat pula membantu menekan kemungkinan terburuk dari pandemik kali ini. 

Petugas medis kala itu menemukan bahwa pasien influenza yang dirawat dengan proses yang melibatkan aktivitas di luar ruangan, sembuh lebih baik daripada mereka yang dirawat di dalam ruangan saja. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa ada faktor udara segar dan sinar matahari yang dapat membantu pasien pulih lebih baik. Selain itu, faktor tersebut diduga juga dapat meminimalisir resiko infeksi di antara staf medis.

Memang ada penelitian yang menunjukkan bahwa sinar matahari dan udara segar merupakan disinfektan alami. Penelitian dari University of Oregon menunjukkan bahwa ruangan yang terekspos sinar matahari selama 90 hari hanya menyisakan 6,8% bakteri. Sedangkan ruang yang tidak mendapat sinar matahari masih menyisakan 12% bakteri aktif. 

Richard mencatat bahwa saat itu, dua tempat terburuk dan beresiko tinggi terinfeksi influenza adalah barak militer dan kapal pasukan. Itu karena tingkat kepadatan prajurit dan pelaut dan ventilasinya yang biasanya buruk. 

Pelajaran dari pandemi terdahulu

Selain itu, dilansir Detik, korban pandemik covid-19 sebagian besar bukan meninggal karena virus corona SARS-CoV-2 melainkan penyakit bawaan. Ini juga terjadi pada korban pandemi flu yang biasa disebut flu Spanyol. Kebanyakan korban saat itu meninggal akibat pneumonia dan komplikasi lainnya. 

Saat itu, open-air treatment pun dilakukan. Tahun 1918, para petugas medis di Boston memperhatikan bahwa pelaut yang paling parah terinfeksi flu Spanyol tersebut berada di ruang dengan ventilasi yang buruk. Petugas medis lalu mulai memberi udara segar kepada pasien dengan menggunakan tenda. Bangsal tempat perawatan berventilasi silang dengan jendela yang dibuka tiap siang dan malam. Terapi terbuka pun mulai banyak dilakukan, terutama pada penyakit umum dan mematikan saat itu, TBC.

Bagaimana dengan masker wajah? Saat itu di Boston, siapapun yang berkontak dengan pasien harus menggunakan masker wajah improvisasi. Masker tersebut saat itu terbuat dari lima lapis kain kasa yang dipasang di kerangka kawat yang menutupi hidung dan mulut. Kerangka disesuaikan dengan wajah pemakai agar menghindari kain kasa menyentuh mulut dan lubang hidung. Saat itu pun masker tersebut harus diganti tiap dua jam dengan disterilkan dan diganti kasa segar. Inilah cikal bakal respirator N95 hari ini. 

Virus Menempel di Perabot Rumah, Berapa Lama?

Virus bisa menempel di benda mati seperti perabot

Di tengah pandemik virus corona saat ini, orang-orang mulai memperhatikan kebersihan dan sanitasi diri dan lingkungan sekitar. Masyarakat sudah mulai membiasakan diri mencuci tangan, menerapkan etika bersin dan batuk yang benar, bahkan membuat hand sanitizer dan larutan desinfektan secara mandiri. 

Semua itu dilakukan masyarakat untuk memaksimalkan pencegahan akan penyebaran virus corona covid-19. 

Ini karena hal lain yang tak kalah mengejutkan masyarakat adalah bahwa virus secara umum, adalah spesies yang bisa bertahan hidup di benda mati. Berbeda dengan benalu, misalnya. Meski sama-sama parasit atau hidup dengan mengambil manfaat dari inangnya, benalu akan mati jika inangnya mati. 

Berapa lama virus bertahan di benda mati?

Dilansir dari CNN Indonesia, belum diketahui seberapa lama virus corona covid-19 akan bertahan di benda mati. LIPI sendiri mengatakan bahwa belum ada penelitian terkait kemampuan virus bertahan hidup. Namun diperkirakan virus bisa bertahan selama beberapa jam saat menempel di perabot. 

The Journal of Hospital Infection, seperti dilansir Detik, mengatakan bahwa virus menempel di perabot berbahan plastik selama 8 jam – 6 hari. Pada benda berbahan alumunium, virus menempel selama 2 – 8 jam, sedangkan pada bahan stainless steel selama 5 hari. Untuk berbahan kayu dan kaca, virus mampu bertahan selama 4 hari. Lalu untuk benda berbahan metal dan keramik, virus bisa bertahan sekitar 5 hari. 

Berdasarkan penelitian mengenai jenis virus SARs dan MERs, LIPI mengatakan bahwa sebenarnya lama bertahan jenis virus tersebut di benda mati bukan berdasarkan material benda tersebut, melainkan tergantung jenis virus, jumlah, suhu dan kelembapan di sekitarnya. Virus tidak dapat bertahan lama hidup di suhu di atas 30 derajat celcius. 

Apakah virus di benda mati bisa menjangkiti manusia?

Kalau begitu, apakah virus bisa menginfeksi manusia jika melakukan kontak dengan benda mati tersebut?

Penelitian mengenai kemampuan transfer virus corona covid-19 belum ada. Namun jika melihat penelitian terkait virus influenza, kontak tangan dengan benda yang terinfeksi virus influenza tipe A selama lima menit bisa mentransfer sekitar 30% dari jumlah virus di benda tersebut. 

Tapi tidak perlu khawatir. Dilansir CNN, untuk melakukan pencegahan menyebarnya virus corona covid-19 melalui benda mati, kita bisa menyemprotkan larutan desinfektan, misalnya alkohol 70% atau larutan sodium hypochlorite seperti kaporit. Pun saat lepas dari tubuh, virus akan terkena paparan udara yang dipengaruhi oleh paparan ultraviolet dan suhu udara. Virus hanya dapat bertahan di kondisi tersebut selama 10 – 15 menit.

Gunakan jasa profesional untuk membersihkan virus

HydroClean Indonesia memiliki layanan MicroTech Ray yang sudah dapat dinikmati di kota-kota besar di Indonesia, meliputi Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Karawang, Cikarang, Bandung, Semarang, Solo, Yogyakarta, Malang, Surabaya, Bali, Makassar, Balikpapan, Palembang, Pekanbaru, Batam dan Medan.

Masuk Angin Bisa Disebabkan Virus?

Pernah mendengar istilah masuk angin? Atau pernah mengalaminya? Biasanya orang Indonesia menggunakan istilah ini untuk keluhan yang dialaminya, mulai dari demam, radang tenggorokan, mual, perut kembung hingga pegal-pegal. Jadi, apa sebenarnya masuk angin itu? 

Ternyata, tidak ada istilah medis untuk masuk angin. Bahkan, masuk angin bukanlah disebabkan oleh angin langsung. Dikutip dari Alodokter, keluhan-keluhan di atas tersebut paling sering muncul akibat menurunnya daya imunitas tubuh. Jadi, keluhan seperti demam, nyeri perut, sering sendawa, merasa lemas hingga batuk dan pilek sebenarnya adalah gejala menurunnya daya tahan tubuh.

Saat daya tahan tubuh melemah, tentunya akan lebih rentan terinfeksi virus dan kuman penyebab penyakit. Sebenarnya ada sekitar 200 virus yang menyebabkan gejala masuk angin tersebut. Misalnya, flu ternyata bisa disebabkan tiga macam virus berbeda, seperti rhinovirus, flu burung dan alergi. 

Masalahnya, orang-orang pada umumnya malas memeriksakan diri ke dokter dan lebih memilih beristirahat di rumah. Ini membuat orang-orang dengan mudahnya menyimpulkan gejala tersebut sebagai “penyakit masuk angin”. Padahal, gejala yang sama yang diderita oleh dua orang berbeda, bisa berbeda pula penyebabnya. Begitu pula penanganannya.

Mengenai Kebiasaan Kerokan

Kita juga tidak jarang mendengar istilah “kerokan” yang kadang disandingkan dengan masuk angin. Ini dilatarbelakangi oleh fenomena dimana pelayanan media yang layak menjadi sebuah komoditas, terutama di kalangan rakyat kecil. Mereka lebih memilih beralih ke pengobatan tradisional atau alternatif. Salah satunya kerokan yang bisa “mengeluarkan angin” penyebab penyakit.

Biasanya gejala masuk angin timbul saat tubuh terganggu oleh udara dingin yang menyebabkan penyempitan pembuluh darah dan asupan oksigen di kulit terbatas. Padahal ketika kulit dikerok, itu menandakan adanya pembengkakan pembuluh kapiler! Semakin merah hasil kerokan, semakin bengkak pula pembuluh kapiler di bawah kulit yang dikerok. 

Di dalam dunia medis, kerokan adalah terapi yang dermabrasive atau merusak kulit. Kerokan memang berguna untuk memanaskan tubuh dengan cara menggosok bagian tubuh yang terasa dingin. Namun bukanlah cara yang efektif, dibanding dengan minum air hangat atau ramuan herbal seperti air jahe. Tapi mengapa banyak orang tertarik dengan cara ini?

Kerokan Menyembuhkan Masuk Angin?

Ini karena efek psikologis dari kerokan yang diaplikasikan di bagian punggung. Dipercaya bahwa terdapat 365 titik akupuntur di sana yang dapat mempengaruhi sistem saraf. Jadi, jika dilakukan kerokan di titik yang tepat, otak akan memproduksi hormon sebagai reaksi tubuh untuk memberi efek relaksasi. 

Efek relaksasi ini yang membuat kita menjadi nyaman dan tidur. Nah, saat tidur inilah daya tahan tubuh terisi kembali dan membuat badan lebih segar saat bangun. Jadi, sebenarnya bukan kerokan yang membuat tubuh kita merasa lebih segar secara langsung. 

Virus influenza, misalnya, yang menyebabkan gejala menurunnya daya tahan tubuh seperti demam dan batuk, sebenarnya belum ada obat yang benar-benar bisa menyembuhkan. Namun virus tersebut bisa hilang dengan sendirinya dalam 5-7 hari, bersamaan dengan pemulihan daya tahan tubuh melalui istirahat yang cukup, serta makan makanan bergizi. 

Gunakan jasa profesional untuk membersihkan virus

Menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar penting untuk mempertahankan daya tahan tubuh dari virus dan bakteri patogen agar tidak mudah terserang penyakit.

HydroClean Indonesia memiliki layanan MicroTech Ray untuk mematikan bakteri dan virus patogen yang sudah dapat dinikmati di kota-kota besar di Indonesia, meliputi Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Karawang, Cikarang, Bandung, Semarang, Solo, Yogyakarta, Malang, Surabaya, Bali, Makassar, Balikpapan, Palembang, Pekanbaru, Batam dan Medan.